
Manusia
Berhadapan antara
Lahir ,hidup dan mati
Manusia
30% merata hidup
Singkat, panjang dan tragedi
Tragedi
Mati sebelum waktu
Terjerumus hidup
Berburu ,bersaing serta bertarung
Kekayaan ,kedudukan dan kepuasaan
Dijalan kegelapan.
Manusia “Xing Ming “
Mengikuti kaidah semesta
Menghayati hidup harmonis
Belajar serta mengolah
Seni ilmu holistis
Langit ,bumi dan manusia
Fisika, kimia , biologi
Mengenal serta melatih
Jalan kesehatan dan kesadaran
Terhindarlah belenggu
Ruang, waktu
Bencana dan kematian
Banggenphot (nama samaran) berkesimpulan :
Kehidupan manusia 60% menjalankan takdir suratan, 30% terjerumus nasib tragedi , 10% bermotivasi diri belajar dan berkarya untuk perubahan ruang waktu serta karakter hidup manusia, tetapi hanya sedikit diantaranya mampu mengenal jati diri “ Wu Xing “ , dan mencapai jalan pencerahan.”Ceng Dao “. Inilah ulasan dalam kaji pengertian Bab 50 kitab Dao De Jing
Kehidupan manusia terbelenggu rantai “Derita, tata dan kata” dari tragedi berburu “Harta, tahta dan cinta”. Hanya kehidupan manusia “Xing Ming“ yang mampu melahirkan pemimpin berkaliber “Taishang”, demi sebuah perbaikan dan pembaruan kehidupan manusia yang penuh pancaroba dan tantangan zaman.
Mungkinkah cikal dasar pemikiran falsafah kehidupan manusia Tionghoa yang kita kenal dengan istilah rangkaian kalimat kata.1.Ming zhao (takdir), 2. Yun chen (nasib) 3. Fengsui (tata ruang) 4. Ji De (amal kebajikan) 5. Dushu (pendidikan) merupakan wejangan dalam terwujudnya hidupan keluarga yang harmonis, mapan, sehat, tenteram dan sejahtera, serta kehidup bergotong royong di zaman modern serba kompleks ini.
Referensi :
1. Lie Tjung Jie: “ Diktat seni ilmu Dongfang Shushu “Jakarta Mei 1988.
2. Andri Wang “Dao De Jing The Wisdom of Lao Zi” Jakarta Gramedia 2009.
3. Francis S Collins “The language of God “ New York Free Press 2007
referensi foto: http://animal.uua.cn/uploadfile/baike/uploadfile/200809/20080906015741252.jpg
Minggu, 08 Agustus 2010
Kehidupan“Xing Ming”
Jumat, 16 Juli 2010
Kepemimpinan “Taishang”
Pemimpin berkaliber “Taishang”,
tak dikenal
benih di dalam kalbuku.
Pemimpin berkualitas menengahakrab dipuji
ucap di bibir mulutku
Pemimpin berkualitas rendah
amat di takuti
tera diwajah mukaku
Pemimpin berkualitas bobrok
penuh dihujah ,
kancah di jiwa ragaku.
Pemimpin berkaliber “Taishang”
Kesuksesan dalam keakhlakan dan kebijakan
Tidak dengan kekuasaan dan kebohongan
Pemimpin tidak berkomitmen dan konsekuen
Kewibawaan dalam keraguan dan kebelengguan
Tidak akan dipercaya dan bertahan lama
Hai ,sang pemimpin!
Jika keakhlakan diabaikan
Berkembanglah gagasan kemanusiaan dan keadilan
Jika kebijaksanaan dikumandangkan
Berkembanglah gejala kemunafikan dan kezaliman
Jika kebertalian dilanggar
Berkembanglah isu keharmonisan dan kepatuhan
Jika ketatanegaraan diguncang
Bertumbuhlah tokoh pemberani dan pembaruan
Demi membela kebenaran dan kejujuran.
Hai ,sang pemimpin!
Lepaskan citra gelar jubah dan topeng
Keintelektualan dan kebijaksanaan
Kesastriaan dan Kebangsawaan
Kedinastian dan kekeluargaan
Hanya hati polos,lugu dan sahaja
Tanpa ego emosi tinggi
Tanpa target keinginan muluk
Tanpa nama kepentingan diri.
Hanya jiwa berakhlak berkerja dan berkarya
Bagaikan kerbau hijau di kehidupan Laozi
Bagaikan petani ladang di kehidupan manusia
Bagaikan rakyat jelata di kehidupan bangsa.
Sebuah ulasan dituturkan oleh Banggenphot (nama samaran)yang diilhami dari pengertian secara bebas dan spontan,dari bab 17,18,19 Dao De Jing( Lao zi 580SM~ 500SM)
Referensi artikel blog dan catatan :
Seorang pemimpin berlatar belakang penguasa politikus, pengusaha oportunis dan profesial pelobi mempunyai perbedaan karakter dengan
keetikaan keuntungan dan kepentingan dalam mengambil serta melaksanakan sebuah kebijaksanaan keputusan. Tentu hanya pemimpin berkaliber “Taishang” benih di dalam kalbuku.
Referensi:
Lie Tjung Jie “Diktat motivasi Renxing tupo” Jakarta Mei 1991.
Lie Tjung Jie “Diktat kepemimpinan Dongfang zhimou “ Jakarta Oktober 1993
referensi foto:
http://www.internationaldovesociety.com/MiscPics/CrownedPigeon/Victoria/Gvbeccari.jpg
Senin, 21 Juni 2010
Zhong Sheng Yuan
Itulah namaku dalam bahasa Han Yu yang artinya suara bel dan merupakan sumber kebijaksaan. Lahir di hari rabu kliwon dengan bintang pisces dan shio tikus kayu, tidak menjadikanku sebagai manusia istimewa walau aku percaya bahwa aku adalah manusia yang terpilih.
Diawali dari detik-detik kelahiranku, ayahku tidak berada disamping ibu , karena sesuatu tugas mulia yaitu melobi pimpinan negara akan sebuah kajian peraturan undang-undang yang mendiskriminasi kaum komunitas etnik dalam lembaga dan tatacara kepercayaan agamanya oleh legislatif pada era politik orde baru. Sukses dalam melobi membuat ayahku percaya bahwa kelahiran seorang bayi laki-laki ini adalah sebuah isyarat untuk sesuatu perubahan baik bagi keluarga dan komunitas kelompok etnik tersebut.
Meski proses pertumbuhan masa kecilku layaknya anak kecil lainnya, ternyata keterlambatan dalam berbicara yang sempat kekhawatiran orang tua. Diceritakan bahwa saya dapat berbicara ketika mendapatkan doa berkat dari yang mulia Ven Beru Khyentse Rimpoche dari Nepal Tibet dalam perjalanan kunjungan ke Borobudur Jateng. Sekali lagi sesuatu fenomena menakjubkan terjadi “Aku bisa berbicara seketika "peristiwa inilah yang dijadikan lentera wejangan bagi kehidupan keluargaku". Belajar , berlatih, membersihkan dan membangun batin jatidiri yang bijak untuk meneteskan segala hambatan dalam kehidupan pengabdian. Boleh percaya boleh tidak , memang itulah kenyataan.
Tahun 1996 adalah era perubahan bagi tatanan kehidupan keluarga serta lingkunganku. Ayah yang merupakan seseorang yang sangat idealis dalam kepedulian membangun sumber daya manusia yang berkualitas untuk menyambut era dunia abad baru berupaya dengan sebuah rancangan yang mana contoh pelaksanaannya diterapkan di keluarga dan rekan dekat, termasuk diriku tak terelakan. Sebuah konsep rancangan pendidikan serta prioritas sasarannya (dari sebuah catatan tahun 1996 dijabarkan padaku tahun 2000)
Apakah saya menjadi bagian rancangan pelaksanaan tersebut? Hal yang pasti pendidikanku sesuai dengan tepat kurun waktu. Diawalinya dengan tamat di SD, SMP,SMU, sarjana dan master. Dan saat ini 2009, saya mendapatkan beasiswa Monbukagakusho dalam pendidikan program S3 diJepang dengan bidang riset penelitian pengendalian energi (Nuklir).
Inilah yang ingin kusampaikan, saat berumur 20 tahun ,saya mendapat arahan dan pandangan tentang perjalanan pendidikan akademis dalam pilihan yang harus ditempuh dengan pemahaman sosialisasi serta kebijakan berkarya yang mana akhirnya terjun berinteraksi di dunia penelitian.
Mungkin saya adalah manusia yang sangat beruntung mendapat bimbingan dibawah Dr,K.Hendrik Kurniawan , Dr.Kiichiro Kagawa , Dr.M.O.Tjia serta renkan-rekan peneliti senior yang mana memberi peluang serta tempat untuk berkarya dan menyertakan namaku sehingga tertera di “Google Cendekia”, Sekali lagi terima kasih untuk semuanya.
Sadar bahwa perjalanan masih panjang dan penuh tantangan, tentu perlu dukungan dari kebersamaan semua untuk tercapainya sebuah cita-cita kesuksesan yang bisa mengukir sejarah bangsa negara dan pengabdian kehidupan manusia yang maju dan beradab.
enjoy, peace and love from Sukra
Kamis, 17 Juni 2010
Cendekia
Hei nama ayahmu ada di "Google Cendekia", sahabatku berkata. Dan aku hanya bisa berkata "O yah" seakan tidak mengetahuinya karena kusadari bahwa di negara ini masih minim akan masyarakat yang ingin mengetahui akan dunia cendekia.
Sejak dahulu didinding tembok dalam ruang kerja pribadi ayah terdapat tulisan di sebuah batu marmer dan ditanda tangani oleh seorang pemimpin bangsa "Spiritualisme, Patriotisme dan Nasionalisme adalah nilai-nilai dasar manusia Indonesia. Manusia yang cerdas dan berdaya saing yang dipimpin oleh pemimpin bijak dan tangguh adalah tiang kehidupan bangsa. Tempat yang indah dan teduh ini merupakan persemaian dan tumbuhnya tekad cita-cita serta prakasa untuk mengabdi dan berbuat terbaik bagi bangsa dan negara”.
Pada kenyataan sangatlah sulit bercerita tentang ayahku yang memiliki karakter “langka” dan kental akan kebijakan-kebijakan jawanisme, corak ajaran taoismenya , dan unsur Yin Yang dalam dualisme paradoks yang berkesinambungan. Benang merah yang jelas tetapi terbebas dari kepentingan dan keuntungan pribadi, demi terobosan spektakuler yang sulit dimengerti dan hanya kepastian dari proses yang sedang berjalan dan ditekuninya, yang mana membuat dirinya terkesan memiliki ciri dari tokoh “ free thinker & dewa gila.”
Ayah dilahirkan dalam keluarga sederhana , yang mana merupakan anak sulung dan laki-laki tunggal dari 5 saudara. Sejak remaja hidup mandiri, dan sempat bekerja sebagai kuli angkutan, pengantar barang elektronik, pegawai pelayan lepas waktu, guru sukarela. Akan tetapi keinginnan terus belajar terus ada dalam dirinya sebagi bukti nyata yaitu menuntut ilmu pengetahuan hingga ke berapa negara.
Catatan kecil tentang ayahku. Di era 80-an, ayah dikenal sebagai seorang terapis medis bertangan dingin dan pengabdi yang tulus dengan pola hidup sederhana. Jadi ingat kata kakek “Ayahmu membangakan, bersahaja, penuh kejutan,ketika resepsi pernikahannya juga diluar dugaan dihadiri oleh ketua MPR/DPR saat itu”. Pada dekade 90 an, karena pengetahuan bidang disiplin ilmu yang luas dan kemampuan profesi yang tinggi, jadi memungkinkan untuk berhubungan dan berinteraksi dengan para pengusaha berkaliber serta kaum elite pemerintah pusat dan daerah. Sipil serta militer dalam diskusi kajian pola pandang tentang sejarah, politik, ekonomi, sosial, budaya dan strategi untuk kemasa datang. Ayah lebih condong kearah konsep reformasi dan perubahan dalam koridor kultur bangsa dan pendidikan sumber manusia demi membangun sistem demokrasi tertata untuk menuju proses negara sejahtera yang maju, juga sebagai narasumber penasehat kandidat pimpinan Negara.
Pada era tahun 2000 an, untuk Indonesia maju, ayah mengfokuskan pikiran kebidang penelitian berteknologi dan pendidikan berlokakarya bersama rekan idealisnya mendirikan “Research center” non profit. Dibangunnya prasarana penelitian berteknoklogi nanosecond yang langka di bumi Indonesia. Pada tahun 2010 telah diawalinya era penelitian berteknologi pikosecond serta metode "non destructive test analsys" yang tak kalah dengan negara maju.
Lebih dari 180 publikasi ilmiah telah dihasilkan oleh para rekan peneliti sukarela si “Research center” serta ringkasannya tertera di dunia cyber ”Google cendekia” yang mana lebih dari 80 judul tercantum nama ayah. Saat ini Hirsch Index 9 dari 42 dokumen versi scorpus documents published.
Mungkin anda tidak percaya di era kehidupan komunikasi moderen, sosok ayahku yang langka ini tidak tersentuh dengan yang namanya HP. Kegiatan rutin sehari-hari berkendaraan umum, jalan kaki dan tugas "belajar dan berkarya” di dalam dunianya, dan padat waktu. Baginya “waktu itu belajar”, “waktu itu berkarya”, “waktu itu kehidupan”, inilah sebagian sisi sosok ayah yang “langka tapi logis” yang dihormati dan disegani oleh kami sekeluarga serta rekan-rekan sahabat , teman dan kelompok komunitasnya.
"Jika berjodoh dimanapun akan mudah saling memandu, bila tidak berjodoh di depan matapun sulit untuk saling menyapa"
Siapakah dia? Ini adalah secarit kertas coretan yang pernah dibuang mungkin bisa menjawabnya.
Biasa akan proses hidup sama lahir dan mati
Luar biasa karena mempunyai tugas dan cita-cita
Demi menjaga bumi dan manusia yang mengabdi.
Aku manusia biasa yang telanjang transparan
Biasa karena drajat manusia sama dihadapannya
Luar biasa karena tiadanya beban dosa bayangan
Demi membuka pintu sukma jiwa dan hati
Apa artinya sebuah hidupku
Luar biasa dalam hidup kemuliaan manusia
Apa artinya sebuah namaku
Biasa telanjang tranparan tak bermakna
Inilah aku manusia biasa
Tranparan kekekalan jiwa dan sukma
Tanpa dengan nama noda
Inilah aku manusia luar biasa
Kehidupan manusia sejati
Tanpa dengan beban bayang dosa.
“seorang pemimpin intelektual bangsa membangun jati dirinya dengan berkarya dan hidup bersahaja, bukan menjadi seorang selebritis penari topeng di panggung sandiwara, untuk mencitrakan dirinya”.
“Mari kita belajar hidup dalam kenyataan dan menjalankan kejujuran, kesiplinan, ketekunan, kebenaran, kepastian dan tanggung jawab, untuk membangun kemuliaan jati diri ”.
Enjoy, peace and love freom sukra
referensi foto: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjS-uGSXHO_K_gtH9uNKa8v80lgf9TPGeEYi2UA7SlLzsnCNXRAUfRIiVCGhzoYmTARM6Maxx8-6E0lMqHEy7OLiIf4pVTzGBII-0UrfglalRnxgwQsK_QlKf9ce3r3XukrRt_cWecshpve/s400/Copy+of+Eagle.jpg
Minggu, 06 Juni 2010
Xiao Bai Ge
Xiao Bai Ge (Merpati putih) adalah seorang wanita keturunan Tionghua. Berbintang Libra, bershio macan, dan tahun ini (2010) genap berusia 60 tahun. Sosok teguh, tekun, ulet, rajin, pantang menyerah demi cita-citanya ada pada dirinya yang mana juga berperan sebagai istri dalam keluarga sosial budaya timur.
Masa lalu dapat dikatakan sebagai masa suram baginya. Tepat pada 5 April 1966(Qingming) ketika masa remaja, terjadi tragedi pendidikan bagi kaum komunitas Tionghoa Indonesia. Sebuah tragedi dimana seluruh sekolah berbasis bahasa Tionghoa dan organisasi berbasis kechinaan dilarang. Sebagai suatu kebijakan politik pemerintah orde baru yang anti China. Masa remaja yang seharusnya ada di lingkungan sekolah, apadaya putus sekolah tak dapat terelakan. Sekolah terakhir yang pernah dirasakan hanya SMP Bazhong Chinese School Jakarta. Era kehidupan memaksakannya untuk membantu roda ekonomi keluarga, dengan kondisi belajar yang tidak kondusif.
Tekad untuk terus belajar, dan hanya berbekal bimbingan singkat dari kakek serta garis ibu seorang sastrawan puisi China perjalanan untuk menimba ilmu tidak berhenti di SMP. Dimulainya sebuah rangkaian karya tulis yang secara perdananya dimuat 13 Agustus 1970, pada Harian Indonesia (Terbit perdana 12 September 1966 sampai era kabinet reformasi Gusdur Oktober 1999) yang mana merupakan media koran satu-satunya yang berbahasa Tionghoa dalam kurun waktu 40 tahun. Saat ini karyanya sudah lebih dari 500 karya tulis yang berupa sastra puisi ,prosa, cerpen dan telah dimuat di beberapa media cetak berbahasa Tionghoa di dalam dan luar negeri. Sebuah karya yang tidak bisa dibilang sedikit.
Pada awal tahun 1980, Xiau Bai Ge menikah dengan seorang terapis medis yang sederhana, yang haus dan peduli akan perkembangan ilmu pengetahuan dan dunia pendidikan. Pada tahun 1996, sebuah peristiwa yang menjadi titik tolak akan adanya sebuah perubahan karena suaminya mendapatkan kepercayaan sebagai seorang inspirator, motivator, pembimbing dan penasehat bagi sanak keluarga dan komunitas kelompok belajar, rekan diskusi serta para peneliti untuk bersosialisasi menyambut dan menuju impian masyarakat baru dengan menuntut belajar ilmu pengetahuan dengan jenjang pendidikan dan keprofesionalan berkarya.
Dengan tekad yang keras dan dapat dorongan dari sang suami, sebuah perjalanan pendidikan Xiao Bai Ge dapat kembali berlansung. Berawal dengan mengikuti program pendidikan overseas (jarak jauh / Universitas terbuka ) Xiamen University, Fujian China jurusan bahasa China bidang sastra Hanyu. Tahun 2001, ia mengikuti tes ujian HSK dengan nilai 379. Tahun selanjutnya 2002, ia mendapatkan sertifikat Advence level. Tahun 2003, ia lulus Diploma kejuruan (Dazhuan) dan 2006 mendapatkan gelar Sarjana Sastra dengan judul skripsi “Kajian awal mini novel bahasa Tionghoa dalam kondisi serta perkembangan di Indonesia”. Pada tahun 2010 ini diusia 60 tahun, telah dijadwalkan pada 28 Juni nanti akan diwisuda dengan gelar Magister sastra bahasa China dari Universitas negeri Hua Qiao University, Fujian China (The Chinese Language & Culture of The Nasional Hua Qiao University) jurusan sastra moderen, bidang studi sastra China dikawasan Hongkong, Macao, Taiwan dan perantauan dengan tema tesis “Pengkajian mini novel bahasa Tionghoa di Indonesia”.
Inilah gambaran sebuah keluarga sederhana yang sangat peduli akan profesi sebagai guru, pengajar, peneliti dan sangat atensi pada pengenalan jati diri dengan konsep belajar dan belajar, serta tidak ada kata lambat demi kesuksesan dan perkembangan pengetahuan demi mengabdi kehidupan manusia dalam masyarakat sosial budaya bangsa di zaman demokrasi dan teknologi moderen.
Enjoy, peace and love from Sukra
referensi foto: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJnIVBloPyfZpZqrbFIC1O28onig9MCSE0oH41KRG9o98WtQRaxYO2ZmVJ7RVEa9lvMpdbb2YAqe9JTtH1W06a6_ROKdsA_Cxbty2gckQSn8XR3rrG2Qhx9aC2jGYUKdHAU1e11MidIsc/s400/698dove.jpg
Kamis, 27 Mei 2010
Eileen
Eileen adalah kakakku yang lahir di bintang Capricornus, sama dengan ayahku yang berentang waktu 30 tahun. Ia seorang pengajar seni yang sangat beratensi dengan hal-hal yang ada korelasinya dengan kultur tradisional maupun corak klasik. Perjalanan pendidikannya diawali di SDK I ,SMPK I, SMAK 3 BPK Penabur Jakarta, hingga mendapatkan gelar Sarjana Seni di Universitas Trisakti jurusan Desain Interior tahun 2003; dan juga lulusan Persiapan Konservatorium 3 di Sekolah Musik YPM bidang piano klasik tahun 2002. Sampai saat ini, ia masih saja aktif sebagai pengajar Interior, pengajar piano klasik, maupun tergabung di dalam Group of Photographic Artists.
Kakakku saat ini juga seorang mahasiswi program Pascasarjana Magister Desain yang mencoba melirik fenomena urban kultur. Saya merasa hasil perkuliahannya cukup memenuhi harapan (>3.8) dengan beberapa kajian kertas kerja yang menurut saya menarik untuk disimak lanjut seperti:
Selain itu ada berapa kajian yg menarik seperti topik dibawah ini, tapi minimnya literature, ruang dan waktu membatasinya untuk melangkah lebih lanjut.
Tentu saja menarik disimak pola pandang dari “Taoisme”, “Fengshui”, “Yijing”, “Sound of Nature”, “Kultur tradisi etnik”. Disini saya hanya bisa mendukung kepada kakakku semoga sukses di bidang perdalaman ilmu desain yang memiliki nilai falsafah budaya seni dan merupakan milik bangsa sendiri dengan kreatif serta estetika terapan yang indah dan nyaman. Semoga langgeng dan memperoleh hasil predikat yang memenuhi harapan dalam perjalanan akademisnya.
enjoy, peace and love from sukra
referensi foto: http://alamendah.files.wordpress.com/2010/04/burung-kepodang-oriolus-chinensis01.jpg
Artikel Favorit dalam 1 minggu
-
“ Tunjangan peneliti naik ” di harapkan memacu kreativatis dan inovasi para peneliti, sehinga bangsa ini semakin pencaya diri untuk mandir...
-
Telah lama saya menghilang. Dan inilah momen yang terbaik saya untuk kembali ke dunia blog ini. Sebagai hadiah untuk ajang kembalinya diri s...
-
Pertalian sahabat dengan keluarga Kurniawan dijembatani oleh hubungan erat antara Ayah dengan keluarga besar Kurniawan asal Semarang pada ta...
-
Hadiah Nobel dianug e rahkan setiap tahun sejak tahun 1901 dan terbagi dalam 5 bidang . P ada tahun 1969 ditambah bidang sosial ekonomi ...
-
Pada tahun 1977 Universitas Indonesia (UI) mendirikan program studi Pasca Sarjana Opto-Elektroteknika dan Aplikasi Laser (OEAL). Ditahun 198...
-
Diatas pintu masuk rumah kediaman sahabat Jepang ku, terdapat sebuah cermin kecil yang berhuruf “Yi Shan” ,kiranya mempunyai makna sebagai b...
-
Negeriku yang indah pesona,subur makmur,aman nyaman,kaya raya juga dengan budaya kultur tata krama tinggi, Terakhir ini peristiwa-peristiwa ...
-
Tjai May On (78 th) ilmuwan pelopor Indonesia (ver Gatra 2009 ). Bapak Fisika Indonesia (ver Sukra 2009 ), Penerima penghargaan Achmad B...





