Senin, 14 Juli 2008

Mengejar Harta si Bonbon

Menurut dokumentasi yang kuperoleh harta si Bonbon bukanlah permen. Meskipun namanya identik dengan sebuah produk permen, tapi dalam hal ini tidaklah mungkin dengan berat 75 ton, dan panjang 15 meter. Nilai harta ini bila dikalkulasikan oleh orang awam pada tahun 2006 adalah Rp 112.500.000,00 (setiap kilonya @Rp 1.500,00). Bagaimana bila harga dikalkulasikan oleh orang yang tahu akan harta ini? Bisa kaya tujuh turunan kali yah.

Oke, perjalanan mengejar harta si Bonbon dimulai. Berikut adalah catatannya:

Saat ini saya berada di Stadhuis Batavia. Berjalanlah ke arah tenggara, anda akan menemui sebuah gedung yang dibangun oleh Ghijsels. Masuklah ke dalam gedung, dan ikutilah spoorweg yang dibangun oleh Nederlandsc- Indische Spoorweg Maatschapij.

*Catatan: Perjalanan dimulai dari museum fatahilla menuju stasiun Kota dan pilih jalur kereta api jurusan Jakarta-Bogor.

Dalam perjalananku menaiki trein menuju pemberhentianku yang pertama, saya tak melihat sesuatu yang istimewa dari daerah ini. Saya hanya menyadari di satu sisi banyak rumah mewah bernuansa Belanda dan terdapat sebuah benteng kecil bernama Jacatra. Di sisi yang lain, saya melihat banyak kuburan dan hutan kelapa.

*Catatan: Cerita tentang Jayakarta dimana dahulu belum memiliki statiun dan trein adalah sebutan untuk kereta api.

Tibalah perhentian pertamaku. Sepanjang rumah gedongan yang kulalui terdapat pohon, yang mana buahnya seperti kacang mede raksasa berwarna hijau, isinya berwarna orange dan rasanya manis. Pada malam hari daerah ini berubah menjadi Princen Park, kehidupan yang menurut saya hanya ada dalam mimpi. Saya melihat ada gambar hidup, konkorsalias perlombaan keroncong, tonil, dan banyak wanita cantik yang memamerkan tubuhnya yang indah. Di belakang daerah ini ada sebuah daerah tempat para seniman tinggal, mereka menyebutnya tangkiwood.

*Catatan: Cerita tentang kondisi daerah Mangga Besar. Princen Park sekarang menjadi Lokasari.

Perjalananku berlanjut, pada pemberhentianku selanjutnya kuhanya melihat sawah dan sebuah gudang beras. Pada pemberhentianku ketiga, karena kondisi udara panas sekali saya duduk di sebuah rumah makan es ragusa Italia. Sepanjang pandang melayang kumelihat sebuah taman indah yang dipersembahkan untuk Ratu Wilhelmina. Di dalam taman itu terdapat pintu air dan sebuah benteng. Benteng dikenal dengan nama "gedung tanah" oleh warga sekitar tetapi dalam peta saya dituliskan dengan nama benteng Citadel.

*Catatan: Daerah Sawah Besar dan Juanda. Benteng Citadel sekarang menjadi Mesjid Istiqlal, yang konon memiliki terowongan bawah tanah yang satu menuju Pasar Ikan dan satunya menuju daerah Berland, Matraman.

Pemberhentianku ke empat dan hari ini adalah tanggal 31 Agustus. Kumelihat ada sebuah lapangan besar yang malam hari berubah menjadi sebuah pasar, yang mana pasar ini diadakan untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina. Di lapangan yang semerawut ini, ada sebuah gedung yang selalu ditakuti orang karena banyaknya orang kejam dan bengis, Hoopbiro namanya.

*Catatan: Cerita di kawasan Gambir tepatnya lapangan Monas. Hoopbiro adalah kantor polisi.

Perjalanan berlanjut, saya sampai pada sebuah kawasan dimana banyak sekali orang kondang di daerah ini. Tentulah tiada pantas bila patokannya pada orang kondang karena bertambahnya usia orang akanlah meninggal. Saya mencari dan mendapatkan sebuah gedung yang bernama De Bouwploeg yang mana merupakan kantor untuk membangun rumah mewah di daerah itu. Cocoklah gedung ini dijadikan patokan.

*Catatan: Gondangdia.

Perjalanan dilanjutkan dan pemberhentianku kali ini ada tiga patokan yaitu pasar, rumah sakit dan kebun binatang. Rumah sakit dan kebun binatang berdiri diatas sebuah tanah seorang pelukis terkenal yang bernama Raden Saleh.

*Catatan: Cikini. Kebun Binatang sekarang telah berubah fungsi menjadi Taman Ismail Marzuki.

Perjalanan saya dengan trein berakhir disini. Ini adalah daerah di mana saya dapat membeli budak yang berasal dari Manggarai, Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kuberjalan 12 menit ke arah selatan dari pemberhentianku ini. Ada sebuah gedung yang memiliki tugas untuk memelihara dan merawat spoorwegen. Bagian sisi pojok dan gelap gulita, saya letakan harta berharga ini.

*Catatan: Manggarai dan gedungnya bernama Balai Yasa Traksi Manggarai.

Catatan si Bonbon berakhir dan saya telah sampai di Balai Yasa Traksi Manggarai. Saat ini saya mencari harta si Bonbon disamping banyaknya harta lain yang tak kalah menarik. Karena keyakinanku akan istimewanya harta si Bonbon kuterus mencari, meskipun sempat lirik sana dan lirik sini untuk menyentuhnya dan memfotonya. Akhirnya saya ketemu juga, harta si Bonbon.

Bonbon adalah nama panggilan kesayangan untuk sebuah lokomotif listrik kelas 3200 yang digunakan pada tahun 1926-an hingga tahun 1976-an untuk melayani penumpang Jakarta-Bogor. Ia menjadi kesayangan karena menjadi satu-satunya lokomotif listrik (nomor 202 tapi yang tampak 201) yang ada di Indonesia, di mana dahulu ada 6 buah. Nama Bonbon ini diambil karena bentuknya seperti kardus permen bonbon. Versi kedua mengatakan karena suaranya berbunyi boo boo. Versi lain yang lebih meyakinkan yaitu karena bentuk rodanya. Bila dilihat pada salah satu sisinya maka ada sepasang pada bagian depan dan ada sepasang di bagian belakang sehingga disebut dengan bo-bo. Munculnya Bonbon di Indonesia adalah sebuah proyek elektrifikasi sebagai kado emas untuk ulang tahun ke 50, Staats Spoorwegen. Tahun 1925, bersamaan dengan diresmikannya stasiun Tanjung Priok, proyek elektrifikasi tersebut selesai. Buktinya adalah dipesannya lokomotif listrik kelas 3200 buatan Werkspoor-Heefmaf.


Akhir kata, harta ini hendak dijadikan monumen seperti halnya emas yang ada di Monumen Nasional (Monas). Hal ini hendak dilakukan karena dipercaya tidaklah mungkin menggerakan harta ini meskipun dengan tenaga 100 orang dewasa (normal). Untuk peletakan harta ini dengar-dengar akan diletakan di dekat Stasion Kota, tapi kepastiannya belumlah diketahui. Ingin tahu lebih jelasnya tentang si Bonbon tanyakan pada IPRS sahabat Bon-bon di www.sahabatbonbon.com

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi:
Shahab Alwi,"Betawi Queen of the East", Republika, Jakarta, 2002.
Hakin Abdul,"Jakarta Tempo Doeloe", Cetakan ke lima, Gria Media, Jakarta, 2001
http://www.irps.or.id/sahabat-bonbon/

Related Posts by Categories



7 comments:

laisya mengatakan...

waa...top banget ceritanya...
btw, aku juga punya lho empat bukunya Alwi Shahab...

Artanto Rizky Cahyono mengatakan...

url http://www.irps.or.id/irps/dataWH202.html sebaiknya diganti menjadi http://www.irps.or.id/sahabat-bonbon/

zener_lie mengatakan...

ok.

aku sudah ganti. thanks yah.

Professional indemnity insurance mengatakan...

mantap mas ceritanya seruu

Asurion Verizon mengatakan...

salam knl mas zaner

Obat Herbal Untuk Amenore Secara Alami mengatakan...

Artikel yang sangat bagus gan..
terimakasih telah berbagi dengan kami, sukses terus

Moviecamera21 mengatakan...

Mari buruan gabung ke moviecamera21.com
Banyak filem-filem terbaru yang di sediakan di sini jamin seru dan tidak mengecewakn teman-teman semua.
buran gabung www.moviecamera21.com
Dan banyak filem-filem keluar terbaru 2016 yang sudah di tayang kan ke bioskop kami buruan gabung teman...
https://www.moviecamera21.com


Makasih

Artikel Favorit dalam 1 minggu