Selasa, 23 September 2008

Kuliner "Chinese and Indonesian" (Masali 3)

Seribu sahabat kedikitan, satu musuh kebanyakan. Munculnya sebuah persahabatan bisa dengan berbagai cara, dan biasanya diakibatkan oleh sebuah kesamaan. Seperti Masali dengan sahabatnya Zhou Qin Han sebagai pecinta kuliner.

Di suatu akhir pekan Zhou Qin Han mengajak makan Masali di sebuah restoran yang cukup mewah, ternama dan ramai. Masali yang bingung mempersilahkan temannya untuk memesan makanannya dan Masali hanya meminta agar yang dipesan adalah makanan halal.

Setelah selesai memesan Masali meminta tolong sahabatnya untuk bercerita tentang makanan khas di China/ Tiongkok. Zhou Qin Han bercerita:

Menu khas terbagi dalam 8 daerah dan belakangan ditambah 2 daerah lagi yaitu Shan Dong, Si Chuan, Jiang Su, An Hui, Hunan, Fu Jian, Guang Dong, Hubei, Beijing dan Shanghai. Untuk rasa, bagian selatan lebih cenderung manis, utara asin, timur pedas dan barat asam. Minumannya teh antara lain teh hijau, teh wulong, teh merah, teh sika (keping), teh kembang. Terkenalnya makanan Guang Dong sampai mendunia, sehingga ada pepatah, "makan di Guang Zhou (propinsi Guang Dong), hidup di Hang Zhou, berpakaian di Su Zhou, meninggal di Liu Zhou".

Untuk makanan tentu kita tidak dapat makan menu makanan raja (Man Han Quan Xi) karena untuk menyicipinya saja butuh 3 hari penuh. Umumnya, dalam makanan Chinese dibuka dengan shi jin (8 hidangan dingin) dan ditutup dengan ba bau (8 hidangan rasa manis). Menu yang terkenal antara lain bebek peking, sop sarang burung, tim kepiting (chinese mitten crab), tim ikan (macrura reevesii), fen si sohun scallop, panggang kambing monggol, dll. Teh banyak macamnya, tapi yang paling terkenal adalah longjing, bilouchun, dahongpao, dan puer. Puer sendiri makin tua (lama) makin mahal harganya. Buah mungkin melon (Xin Jiang), anggur ( Tu Lu Fan), Litchi (Guang Dong).


Itulah makanan khas China/ Tiongkok, cerita Zhou Qin Han. Lalu bagaimana masakan Indonesia? Masali menjawab:

Masakan Indonesia tidaklah mewah tapi cukup menggoda untuk disantap. Untuk pembuka atau penutup sepertinya tidak ada. Mungkin dalam syukuran atau pergelaran wayang baru ada seperti tumpengan untuk pembuka yang memiliki arti berdoa agar dalam pekerjaan semuanya selamat, dan bubur sumsum sebagi penutup yang memiliki arti ketika lelah, jiwa tetaplah bersemangat dan bergotong royong. Untuk makanan khas, di setiap propinsi ada makanan khas sendiri-sendiri yang berbeda dengan yang lain hingga tak bisa disebutkan satu persatu. Tapi menu yang terkenal antara lain soto bundel Solo, nasi liwet Solo, ayam bakar Taliwang, lumpia Semarang, lontong cap gomeh, kambing guling, rujak penganten, empe-empe Palembang, soto tengkleng, laksa Betawi, dll. Minumnya hmmm.... kalau saya sih sukanya es kelapa muda.

Semuanya pembangkit selera, tak perlu mahal yang penting kenyang. hehehe.

Sebelumnya Masali bertanya, apa hubungan fen si, shi jin dan ba bau dengan pejabat di pemerintahannya? masali hanya bisa bertanya kepada sahabatnya. Sahabatnya hanya dapat menarik nafas panjang, inilah kemajuan globalisasi informasi internet. Masali masih tak mengerti, apakah anda dapat membantu menjawabnya?

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi photo:
http://user256396.websitewizard.com/images/Chinese-Peking-duck.jpg

Related Posts by Categories



1 comments:

Darmawan mengatakan...

well zen..sebenarnya pas ngebaca posting an lu yg satu ini, cukup memalukan bwt g sendiri. soalnya g sbg org indonesia keturunan, tp buta sama sekali dg budaya leluhur ato budaya t4 g tinggal. rada nyesel jg, krn mindset wkt g msh smu ato kuliah sangat memuja budaya modern.
skg hanya bs, searching2 posting ato artikel2 ttg budaya qt, krn bnyk filosofi yg bs qt ambil, even terkdg bagi org modern dianggap kepercayaan tanpa arti

Artikel Favorit dalam 1 minggu