Kamis, 25 September 2008

Keberadaan Wanita (Masali 5)

Zaman telah berubah karena pengaruh globalisasi. Wanita ingin disamakan dengan pria, walaupun secara kodrat mereka berbeda. Wanitapun dianggap perusak kehidupan, yang pada kenyataan laki-laki juga ikut ambil bagian di dalamnya. Di mana keberadaan wanita sebenarnya?

Masali penasaran dan akhirnya bertanya tentang apa peranan budaya kultur wanita di China kepada Lao-lao (nenek) yang masih paham akan hal tersebut. Diceritakanlah:

Dalam sebuah kehidupan sosial ada 5 pedoman yaitu:

  • Cinta akan hubungan darah antara ayah dan anak.
  • Setia dalam pengabdian pada raja oleh para pejabatnya.
  • Perbedaan kodrat dan tugas antara suami dan istri.
  • Urutan dalam keluarga antar kakak dan adik.
  • Rasa percaya yang dijunjung tinggi antar sahabat.

Suami dan istri menjadi salah satu pedoman karena mereka dianggap sebagai awal dari sebuah mata rantai kehidupan (keluarga) yang memiliki tugas dan perannya masing-masing. Tugas pokok laki-laki dan wanita ditunjukan dengan aksara piktografi huruf China. Laki-laki (nan), pada bagian atas aksara adalah sawah dan bagian bawah adalah tenaga yang berarti kerja di ladang. Wanita (nu) menggambarkan seseorang dalam keadaan celentang yang menunjukan keberadaannya di tempat tidur. Suami (fu) ditunjukan dengan huruf Tian (langit) yang menonjol atasnya, memiliki arti suami sangup menjadi kepala keluarga jika tidak berarti manusia yang gagal dalam kehidupan. Istri (fu) ditunjukan dengan wanita dan sapu yang berarti wanita bertugas mengurus rumah tangga dan bagi wanita yang pembawa sial disebut wanita bintang sapu (komet).

Sebagai wanita haruslah hormat dan menurut akan etika yaitu sebelum berkeluarga harus taat kepada ayah, sesudah berkeluarga turut kepada suami dan ketika suami tiada ikut kepada anak laki-laki paling besar. Sebagai wanita diharuskan menjaga kesopan santunan dalam tingkah laku, ucapan, penampilan dan pekerjaannya. Karena wanita memiliki tugas penting yaitu memuliakan nama keluarga besar, meneruskan generasi, mendukung suami, serta mendidik anak.

Cerita tambahan dari Lao-lao:

Ada pepatah: laki-laki jangan salah memilih pekerjaannya dan wanita jangan salah pilih pasangannya.

Perkawinan memiliki arti melakukan suatu ikatan yang dikarenakan pria yang sedang mabuk akan wanita. Tapi perlu diingat perkawinan ditentukan oleh orang tua dan mak comblang (profesi yang sangat dipercaya). Kriteria dalam memilih pasangan dengan melihat kesepadanan status sosial dan ekonominya, tentu laki-laki harus memiliki kemampuan dan wanita memiliki kecantikan dan kesucian.

Dalam proses menuju sebuah perkawinan memiliki 6 tahap (liu li) yaitu:
  • Ti Qin yang berarti mencari tahu status calon pasangannya antara lain keadaan keluarga, kekayaan, kemampuan, reputasi, kesehatan, dan status pribadi.
  • Membawa hadiah untuk menanyakan kesedian dan informasi yang diperlukan.
  • Menghitung kecocokan pasangan dengan cara menanyakan kepada orang pintar.
  • Na Zheng, melakukan pengikatan dengan kalung emas.
  • Mencari hari nikah yang baik.
  • Upacara adat dan masuk ke dalam keluarga suami.
Itulah penjelasan dari Lao-lao yang masih kental akan kultur kebudayaannya.

Mungkin hal diatas tidaklah sesuai dengan apa yang dipikirkan dan diharapkan, tapi hal tersebut adalah kodrat dan kenyataan yang harus dihadapi. Saya mencoba melihat arti kata perempuan dan wanita dalam bahasa Indonesia. Perempuan berasal dari kata empu yang bermakna dihargai, dipertuan atau dihormati. Wanita dipercaya berasal dari bahasa Sansekerta dengan kata dasar wan yang berarti nafsu sehingga bermakna obyek seks. Wanita dalam bahasa Jawa berarti wani ditata yang bermakna orang yang berani untuk diatur, atau wani tapa yang bermakna wanita adalah sosok yang berani menderita bahkan untuk orang lain.

Ada sebuah pepatah yang menjadikan wanita itu sempurna dan memiliki sebuah kekuatan yang berbeda dengan laki-laki:

Wanita Jawa tidak perlu menjadi maskulin untuk mendapat kekuasaannya, tetapi justru ia harus memamfaatkannya kefeminitasnya.


Pemilihan gambar tusuk konde dikarenakan benda tersebut diletakan di mahkota (rambut) yang bermakna setinggi-tingginya seorang wanita harus tunduk kepada suami sebagai kepala keluarga. Tusuk Konde digunakan sebagai alat indikator makanan beracun dan alat gawat darurat dalam hubungan suami istri.

Referensi:
Christina S Handayani, Ardhian Novianto ,"Kuasa Wanita jawa", PT LKis Pelangi Aksara Yogyakarta, Yogyakarta, 2008.

Referensi photo:
http://static.flickr.com/226/494358371_945e243816.jpg

Related Posts by Categories



2 comments:

Vinny mengatakan...

wah, keren yah perempuan ???
gw sebagai "perempuan" jadi merasa kalo selama ini sebenarnya kita itu udah mirip kayak barang gak sih?
Dipilih cowok, selalu berusaha untuk tampak cantik yang sebenarnya hanya digunakan untuk memenuhi nafsu seks para cowok T.T !
Waduh, kayaknya emansipasi harus bener-bener ditegakkin deh !
Trus ada satu hal lagi yang perlu diubah deh.
sepertinya "mas kawin" gak boleh dilakukan lagi gak sih?
jujur meski gw suka dengan uang, tapi gw gak suka kalo pas kawin ntar,pihak suami gw memberikan mas kawin itu ke mama n papa gw!
Coba dibayangkan deh, mas kawin pasti jumlahnya lumayan kan?
Nah kesannya gw kayak dibeli !!T.T
Trus ada lagi cerita dari nenek gw! Cewek zaman bahula itu dikawini oleh pihak cowok cuma dijadikan sebagai induk (alias untuk melahirkan)
AAAAHHHH. stres gw dengerinnya !
dulu cewek ga boleh sekolah dan disuruh tinggal di dapur, sumur dan "kasur" hiks-hiks
Tapi dengan adanya emansipasi, sebenarnya perempuan itu masih harus memenuhi kodratnya untuk lebih "meredakan" kemampuannya pada suami. Mau gak mau?
cewek pasti ga mau dong kalo suaminya itu dibilang lebih "......" dari dirinya.
kan malu ?
Nah, jadi intinya, cewek tetap harus memenuhi kodratnya untuk tetap bisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga.
akan lebih baik kalo cewek itu punya kemampuan intelektualitas yang tinggi juga kan?
kan jadi ada nilai plus-plus????
So, meski gw terlahir sebagai cewek. gw tidak akan pernah menyesalinya. if there is really another life, gw tetep mau terlahir sebagai cewek karena tidak ada satu bayi pun di dunia ini yang lahir tanpa rahim seorang ibu. Then, it's a great honor for all the women in the world !^^

human clay mengatakan...

emang bener, gw sebagai cwo klo dirasain emang lebih sering merendahkan cwe. conto kecilnya klo gw lag nongkrong d mall gw ngeliat fisiknya cw emang bberdasarkan nafsu aj bukan lebih pada kekaguman ...
haha jd mikir jg ...

kasian juga para wanita

staw gw seh klo yang namanya cwe direndakan emang udah sejak zaman dlu, ama budaya yang hidup.

Pada dasarnya cwo ngerendahin cwe menurut gw seh lebih kepada menunjukan keberkuasaan cwo dan kuatnya mereka secara fisik dari cwe,sehingga ada naluri terendah dari sifat manusia yang seperti binatang untuk menindas kaum hawa nie ...

yang kayk gni seh sbnernya bakal terus berlanjut selama gk da aturan yang ngebwt cwo menghormati n menghargai cwe ...
klo ada y bgs ...
tp percuma klo yg bwtnya cwo jg ...

jangan jadikan emansipasi hanya sebagai kata2 yang mati karena banyaknya kepentingan ...

Artikel Favorit dalam 1 minggu