Di sebuah pentas kesenian, Masali bersama dua sahabatnya yaitu dari Belanda dan China, keliling area untuk menunggu mainnya opera Beijing. Dalam perjalanannya mereka menemukan brosur tentang kesenian-kesenian China.
Setelah nonton opera Beijing, mereka pulang. Sahabatnya bertanya bagaimana pendapat Masali tentang operanya. Masali menjawab opera tersebut mirip dengan pertunjukan wayang orang di Indonesia, hanya saja antusias masyarakat akan pertunjukan tersebut sangatlah jarang.
Memang warga Belanda, suka akan kebudayaan Indonesia. Ia bertanya bagaimana dengan gunungan? Masali menjawab:Gunungan disebut juga dengan kayon adalah bagian dari seni wayang. Mungkin saat ini gunungan telah memiliki aneka bentuk dan rupa, dan kesakralannya telah tiada. Makna pada gunungan pada umumnya:
- Gunungan disebut kayon yang berarti pohon kehidupan.
- Akar batangnya terbuat dari batang pohon nagasari, hal ini dikarenakan indah, kuat dan dapat memberikan pengaruh yang baik.
- Bentuknya adalah pohon khayangan dewadaru atau yang disebut dengan kalpataru yang berarti keabadian dan kelanggengan.
- Pada gambar pohon memiliki 8 cabang yang melambangkan keanekaan alam pada awal dan akhir.
- Harimau (si belang) berarti pemimpin hutan yang luar biasa dan banteng (si hitam) berarti pengolah tanah yang sangat kuat, yang mana kedua simbol tersebut digabungkan memiliki arti kehidupan penuh dengan konfrontasi abadi dalam segala keadaan baik positif maupun negatif.
- harus melakukan puasa dan muti sebelum membuatnya.
- minimal dalam 5 generasi merupakan pembuat wayang.
- telah memiliki cucu dan beristrikan hanya 1 yang berarti menunjukan ia sebagai guru dan teladan dalam kehidupan berkeluarga.
naga langit dengan 8 bagian dewa-dewinya, penuh makna kebaikan dan kebajikan, simbol 4 penjuru naga hijau, macan putih, burung merah, kura-kura hitam. Itu sama dengan falsafah China klasik. Apakah itu lambang "Totem"?
Sampai sekarang Masali termenung dan masih bingung, apa maksud ucapannya. Hihihi

Enjoy, peace and love from Sukra.
Gambar 1: gunungan
Gambar 2: opera Beijing
Referensi photo:
http://gantharwa.files.wordpress.com/2007/03/gunungan.jpg
http://farm2.static.flickr.com/1154/1018571404_0cfeadc284_o.jpg
1 comments:
Maaf Kang Mas, numpang tanya:
Saya mengerti cerita gunungan tetapi bukan dari sejarah Jawa melainkan dari Al-kitab (Kristen) yang mana berkisar tentang cerita penciptaan dunia oleh Tuhan yaitu Adam dan Hawa ditempatkan di Taman Firdaus yang mana terdapat pohon kehidupan abadi dan pohon pengetahuan yang baik dan buruk. Tuhan melarang Adam dan Hawa memakan buah tersebut.
Ular yang melilit di pohon sama seperti cerita iblis yang saat itu berbentuk ular merayu Hawa untuk merayu Adam memakan buah tersebut.
Dan juga Hariamau dan Kerbau melambangkan anak Adam dan Hawa yaitu Kain dan Habel.
Kain ini memang seorang yang pertama-tama di dunia dalam hal pertanian. (makan tumbuhan).
Sedangkan Habel adalah seorang yang pertama-tama di dunia dalam hal perburuan. (makan daging).
Pada akhirnya karena cemburu akan Cinta Tuhan lebih berkenan kepada persembahan Habel, maka Kain membunuh Habel.
Kembali ke jalur:
Apakah Gunungan itu budaya Jawa sesudah Kristen masuk di Jawa atau sebelumnya?
Mohon pencerahan Mas...Terimakasih...
Posting Komentar