Sabtu, 01 November 2008

Uang Atau Bukan?

Berani melakukan, maka harus berani bertanggung jawab atau menerima resikonya.

Dalam hati (konsumen) berkata, mengapa jika memberikan harga haruslah dengan harga yang aneh (contoh Rp 3.875,00) atau harga sebelum dikenakan pajak (contoh Rp 4.545,00). Ingin tampak murah tapi nyusahin.

Ini adalah 2 buah kisah yang membuatku kesal dan bertanya-tanya apa maksud mereka menggunakan harga yang aneh.

Pada suatu ketika saya belanja di sebuah supermarket. Karena banyaknya harga yang aneh, supermarket telah menyiapkan uang 50-an dan 25-an. Dalam hati berkata, keren karena mereka telah siap atas harga yang telah mereka berikan. Menurut saya ini adalah contoh sebuah supermarket yang baik. Karena seringnya mendapatkan kembalian 50-an dan 25-an, di rumah uang tersebut menumpuk. Daripada tidak digunakan, maka dikumpulkannya mereka menjadi bernilai 500 atau 250 rupiah. Ketika digunakan uang tersebut untuk bayar ini, bayar itu banyak yang berkata uang tersebut tidak berlaku lagi. Bingung hati ini, akhirnya menggunakan uang tersebut untuk berbelanja di supermarket tersebut. Setelah di kasir, hasil belanja dibayar dengan uang tersebut yaitu dengan kumpulan 50-an dan 25-an, hal dashyat terjadi. Mereka menggerutu, tampak tak senang.

Dalam hati berkata, mengapa mereka marah? Hal yang kuberikan adalah uang, dan berasal dari kembalian yang saya dapat. Hal lain yang membuat kubertanya, seringkali manusia tidak mau melihat uang kecil, apakah mereka tidak menyadari betapa sukarnya mencari uang di saat krisis ini. Sebegitu tidak berharganyakah uang tersebut?

Cerita lain. Sama halnya ketika saya berbelanja di sebuah supermarket. Kali ini kembaliannya adalah permen. Mereka menyetarakan sebuah permen dengan harga 100 rupiah. Mungkin untuk banyak orang tidak peduli bila 100 rupiah disetarakan dengan sebuah permen. Tapi bagi seseorang yang teliti bisa menjadi sebuah masalah, apalagi bila tidak suka permen. Karena penasaran saya mencoba berpikir walaupun belum berani untuk melakukannya. Hihihi.

Sebuah kantung permen dengan harga 4.000 rupiah (sebetulnya sih lebih murah lagi) dan berisi 50 bungkus permen. Jadi jika anda ingin beli sebuah barang dengan harga 5.000 rupiah maka cukuplah membeli sebungkus permen, kemudian anda keluar dari supermarket untuk membuka permen tersebut dan masuk belilah barang yang anda inginkan dan bayarlah dengan permen. khan harga sebuah permen 100 rupiah dan isinya 50 permen jadi 5.000 rupiah bukan? Seharusnya mereka menerima bukan? Permen khan telah menjadi alat tukar mereka (uang).

Disini saya ingin menunjukan bahwa apa yang telah diperbuat maka haruslah berani untuk mempertanggung jawabkannya. O yah satu lagi, dengan kembalian permen menurutmu itu mencuri atau korupsi? Hihihi...

Uang kecil tidak dihargai dan permen telah menjadi alat tukar baru. Manakah uang yang benar?

Enjoy, peace and love from Sukra.

Related Posts by Categories



22 comments:

Red Dog mengatakan...

Hebat benar2 gw baru sadar, sering gw dapet kembalian permen ato jumlah uangnya dibuletin ke atas ato ke bawah. Jadi otomatis gw ga dpt duit Rp 50 ato Rp 25

Tapi supermarket itu untung loh (menurut gw) kalo ad 100 pembeli yang 25 rupiahnya diambil si supermarket dapet 2500 nah kalo ad 1000000 pengunjung ?

Tulisan yang bagus :)

Anonim mengatakan...

Dari pengalaman saya, maka saya membayar ke supermarket dengan credit card, karena dengan credit card, harga yang harus dibayar tercantum di pembayaran credit card sama, maka sejak saya membayar dengan credit card saya tidak mengalami lagi seperti yang anda alami, hehe :).

zener_lie mengatakan...

tapi khan kredit card umumnya untuk pembayaran diatas 50rb.

dan saya tak terbiasa menggunakan credit atau atm. takut tak bisa mengontrol pengeluaran. hehehhe

Anonim mengatakan...

tidak selalu diatas 50 ribu, kalau anda belanja dibawah 50 ribu, ya siap2 bawa uang kecil, untuk mencegah hal semacam itu.

zockye mengatakan...

ya duitlah....hahahhahhahhaaa

Anonim mengatakan...

susah juga sih, soalnnya jaman sekarang uang kecil pecahan 100, 50 , 25 rupiah udah gak ada harganya....sikap saya ketika mendapat kembalian permen saya tolak, tetapi kalo gak ada uang kecil yasudah...relakan aja...

adit

wahyu mengatakan...

iya
saya juga sering tuh dapet kembalian permen.
tapi ya gimana lagi, emang jaman sekarang uang receh sulit. palagi yang dibawah 100.
emang yang 25 masih ada? koq gak pernah liat ya?
nice post.

Embong mengatakan...

Ya? mau tidak mau deh rugi atau untung tetap saja kita yang harus manage artinya kalau gak mau rugi bayar pakai kartu Debet aja, ruginya kita gak dapat permennya. Lebih parahnya lagi masyarakat sudah apatis/gak mau tahu/gak peduli masalah uang kembaliannya.

ria permana sari mengatakan...

belanja di supermarket memang begitu, alih-alih menawarkan harga yang murah namun sesungguhnya menipu juga..
memang caranya begitu...
tentang permen, rasa-rasanya nggak cuma di supermarket di toko-toko ato warung juga udah biasa menjadikan permen sebagai pengganti kembalian..
rame-rame belanja di pasar tradisional aja, yang masih bisa tawar menawar...

www.kiki4hire.com mengatakan...

Kacamata pandang saya sedikit lain...

Mungkin juga angka yang aneh itu sebagai alat persaingan, pastinya tidak semua orang membayangkan bahwa pada beberapa orang angka 5 - 10 - 50 Rupiah itu berarti.

Pengalaman pribadi waktu kecil, walaupun beda 50 Rupiah di satu toko dan toko di sebelahnya kita rela pindah, karena persepsi murahnya (beda gocap)...

Mungkin sasarannya bukan rekan-rekan yang cuek dengan beti (beda tipis) ...

salam,

kiki4hire

imran rusli mengatakan...

konon katanya uang receh yang terkumpul banyak itu untuk bonus karyawan (dibagi-bagi setelah toko tutup), jadi majikan mereka membebankan bonus yang seharusnya mereka bagikan ke kita, saya pernah belanja balik pake permen eh mereka ogah, malah merengut. Tapi soal filosofi belanja orang indonesia itu mungkin saja, yang kaya-kaya pun bisa pindah toko karena beda harga, meski cuma gocap, gila memang!

Centuri-ON mengatakan...

emang calan tuh kasir :)) giliran dia kita aja dia pasti kagak mau di bayar pake permen.

http://forum.centuri-on.org

cooobain mengatakan...

misalnya kembali dari kasir kagak pake permen, mana ada lebih wat mereka. yg ada mau nya tambahan trs...

Anonim mengatakan...

http://connections.blackboard.com/people/1755b9ba7d Buy amoxil online
http://connections.blackboard.com/people/d3f4f89d59 Buy Cheap Bactrim
http://connections.blackboard.com/people/76b8b13755 Buy Celebrex Online

mashoni mengatakan...

yup...baru sadar gua setuju bgt bro artikelnya...
biasanya dan kebanyakn supermarket pakai harga seperti ini 29.900..padahla tuh harga 30.000 bedanya cma seratus perak doang....dasar2222

obat luka diabetes mengatakan...

yups banyak juga tuh gan koin nya, makasih gan buat infonya

xamthone plus mengatakan...

cerita yang menarik juga nich,,,,

jelly gamat mengatakan...

sippp...
jadi keingetan,,,,
hehehe

obat penyakit demam berdarah mengatakan...

sipp dech... semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita tersebut...

Obat Herbal Penyakit Jantung mengatakan...

ternyata indonesia punya mata uang baru, yaitu permen,,
saya juga berpikir sama dengan mas zen, saya seringkali mendapat kembalian permen ataupun pecahan koin yang hampir sudah tidak digunakan di masyarakat. semoga saja haal tersebut bisa segera diperbaiki,

obat tradisional keputihan mengatakan...

nice post..

tapi kalau bicara soal uang sngat membungungkan

agen sbobet terpercaya mengatakan...

Hebat benar2 gw baru sadar, sering gw dapet kembalian permen ato jumlah uangnya dibuletin ke atas ato ke bawah.

Artikel Favorit dalam 1 minggu