Rabu, 16 Maret 2011
Hari Kelabu di Jepang
Senin, 14 Maret 2011
Jepang Tenggelam
Kamis, 04 Juni 2009
Kegagalan Sebuah Reformasi
Cek dan ricek akan informasi yang keluar dari mulut "orang gila" dan yang saya pernah tulis dalam sebuah artikel "Era Baru Perang Negara". Seorang sahabat yang penasaran akhirnya mencari jawaban dan menjadi "orang gila" karena tidak percaya akan apa yang dipelajarinya.
"Orang gila" bukan berarti orang sakit jiwa tapi seseorang yang bisa mengeluarkan pendapat yang berbeda dari orang lain. Seperti saya.
Sebuah jawaban yang membuat sahabat saya menjadi "orang gila". Adakah jawaban akan masa depan yang membingungkan tentang reformasi? Sebuah kisah yang menjadikan Indonesia mengulang drama sejarah? Sebuah misteri yang berpaku pada buku "Zhan Guo Ce" dan "Dong Zhou Lie Guo Zhi" sebagai benda keramat, untuk kearifan bagi kaum eksklusif, elit, dan juga sebagai panduan kebijakan strategi di masa edan ini.
Ini adalah catatan sejarah tentang zaman keemasan yang paradoks antara kekacauan, kegalauan, kegairahan dan keterbukaan yang terjadi lebih kurang 500 tahun di negeri tirai bambu. Sejarah menuliskan terbaginya 2 periode di era zaman Dong Zhou yaitu periode Chun Qiu (SM770 - SM476) dan Zhan Guo (SM475 - SM 221) yang mana di setiap periodenya terbagi atas 2 fase. Fase-fase tersebut:
Apa yang dimaksud dengan terulangnya sejarah dan masa depan yang membingungkan tentang reformasi? Jawabannya adalah 4 fase yang disebutkan diatas. Sebuah fase awal yaitu dari pemahaman akan ideologi, fase figur tokoh pemimpin hingga kekuatan organisasi dengan mengusung reformasi (perubahan) yang pada dasarnya penuh akan masalah dan tragedi. Pada akhirnya, melakukan berbagai strategi politik koalisi otoriter dan pragmatis demi kemenangan mutlak untuk kesatuan "bangsa dan negara". Apakah anda tidak merasakan ini sebagai pengulangan dari sejarah?
Akan tetapi berapa lamakah hal tersebut bertahan? Apakah berlanjut hingga generasi penerus?
"Sepanjang sejarah politik negara yang namanya revolusi, reformasi, pemberontakan, kudeta yang datang silih berganti; keadilan, kesejahteraan dan kemanusian yang masih saja langka di era zaman modern ini; apakah harus dibayar dengan harga mahal seperti tumbal reformasi? Sebenarnya harapan rakyat sangatlah mudah yaitu rasa aman, bisa bekerja dan bebas berpendapat untuk kehidupan yang manusiawi".
Enjoy, peace and love from Sukra.
Jumat, 29 Mei 2009
Era Baru Perang Negara
Secuplik informasi yang saya dengar ketika berada di sebuah sudut kota yang penuh dengan kemajemukan. Informasi penting, tapi bagi mereka ini hanyalah bahan tertawaan.
Aneh dan memang aneh, bukan hanya di negara ini tapi seluruh dunia sudah aneh. Bila seluruh kisah keanehan ini digabungkan dan kemudian dijadikan buku, judulnya adalah "Era Baru Perang Negara".
Cerita pengulangan sejarah Qu Yuan (SM340 - SM378), zaman dinasti Zhou (SM1046 - SM221), era Dong Zhou (SM770 - SM221), periode Zhan Guo (perang negara) (SM475 - SM221). Yang berbeda pada zaman tersebut dengan zaman ini yaitu tokoh bangsawan negara Chu yang juga seorang politikus dan sastrawan dihukum di pengasingan oleh raja. Bodohnya orang tersebut malah mati menceburkan diri ke sungai karena sedih mendengar berita tentara Qin menaklukan kota negara Chu. Tapi berbahagialah karena kejadian ini selalu diperingati dengan festival perahu naga Duan Wu (Pe Cun).
Mau tahu persamaannya? Semuanya bercerita tentang "negara kekuasaan otonomi" yang pada zaman itu menggunakan istilah "7 negara kekuasaan otonomi" yang terdiri dari negara Wei, Zhao, Han, Chu, Qin, Qi, dan Yan. Pada dasarnya negara-negara tersebut melakukan "perombakan dan reformasi politik" dengan sutradara Li Kui, Lu Zhong Lian, Shen Bu Hai, Wu Qi, Zou Ji, dan Shang Yang.
Hei, anak muda (saya maksudnya). Kamu tahu strategi apa yang sedang mereka lakukan, para penebar janji? Saya terkejut, terdiam dan sadar bahwa betapa tidak mampu dan tidak mengerti akan dunia perang tersebut.
Tak apa, dirimu masih muda. Inilah yang mereka lakukan untuk perombakan dan reformasi, sebut saja Tata Negara, yaitu strategi melobi (politik) untuk kepentingan, strategi militer (pertahanan) untuk kemenangan dan strategi hukum (legalitis) untuk kekuasaan yang mana itu semua adalah ajaran Zhong Heng. Metode untuk strategi politik yaitu koalisi horisontal yang aktornya Zhang Yi, koalisi vertikal dengan aktor Su Qin, dan koalisi jauh dekat dengan Fan Sui. Apakah strategis dan metode para politikus saat ini akurat? Siapa suruh mereka tidak mau mencari gue, dalam candaannya.
Keampuhan strategi tersebut dapat dilihat pada zaman dinasti Zhou yang mana pada saat itu terjadi kekacauan dalam kenegaraan yang terjadi lebih kurang 800 tahun. Masalah, terselesaikan karena negara Qin menggunakan metode jauh dekatnya Fan Sui dengan para ahli strateginya seperti Lu Bu Wei, Han Fei Zi, Li Si dapat mengalahkan 6 negara dan mempersatukan negara dalam kesatuan yang merupakan adi negara pertama dalam sejarah China.
Mereka seharusnya sadar untuk belajar strategi ini. Pelajaran ini dapat diperoleh dari Gui Gu Zi (SM390- SM320) yang terdiri dari 12 bab, bab 13 dan 14 hilang, Sun Zi (±SM500) yang terdiri dari 13 Bab 108 pasal, Han Fei Zi (SM280 - SM233) yang terdiri 20 jilid 55 Bab dan Zhan Guo Ce (oleh Liu Xiang SM77 - SM6) yang terdiri dari 33 Bab. Atau baca kisah klasik yang ditulis oleh Feng Meng Lung (1576-1646) dalam 108 Bab yang berjudul "Dong Zhou Lie Guo Zhi" (Babad negara Dong Zhou)
Ada pepatah keren di pembukaan buku Zhan Guo Ce. Bicara dengan gaya sastrawan:
Debat seseorang lebih berat dari 9 bejana mustika"
Dia tertawa dengan lantang kemudian melanjutkan. Ada lagi yang paling aneh dan menjijikan yaitu pendidikan kepemimpinan. Coba bayangkan ilmu kepemimpinan yang terbagi dua yaitu ilmu Tata Negara yang mengajarkan strategis politik dan ilmu Tata Krama yang mengajarkan sopan santun. Dimanakah hal itu harus dipelajari?
Seseorang menjawab dengan ketidak yakinan, Tata Negara diajarkan di sekolah dan Tata Krama dididik di rumah.
Kenapa dirimu ragu, jawabanmu itu betul. Kita bukan lagi berada di zaman feodal yang mana ilmu Tata Negara adalah tabu, dan hanya diwariskan di dalam istana atau keraton. Sehingga menjadikan ilmu Tata Krama sebagai asumsi untuk mendapatkan gelar keakademisan untuk jenjang jabatan (yang pernah terjadi di China selama ±1300 tahun). Nah, apa jadinya jika Tata Negara dididik di rumah dan Tata Krama diajarkan di sekolah tercipta kepemimpian dinasti dan keteladanan yang munafik. Inilah fenomena yang terjadi di negara feodal kerajaan tersebut yaitu budaya kekuasaan hieraki, preman yang anarkis dan tradisi pertalian KKN.
adalah bahwa manusia tidak pernah berlajar dari sejarah"
(G.W.F. Hegel)
Maafkan jika ada kata yang tidak berkenan atau menyakitkan hati karena itulah secuplik informasi dan ingin menunjukan sebuah realita yang saya peroleh ketika berada di sebuah sudut kota yang penuh dengan kemajemukan. Saya berharap bahwa setiap insan manusia akan menjadi pemimpin yang tangguh dan menjadi teladan yang soleh.
Kita tetap hidup dalam kemiskinan dan kebodohan"
Enjoy, peace and love from Sukra.
Selasa, 28 April 2009
Sumatra Barat (Padang)
Mendengar Padang, yang teringat pertama kali oleh saya adalah masakan Padang. Mungkin para pembaca juga berpikiran sama denganku. Mungkin itulah kehebatan masyarakat Minang, yang mana berjumlah ±2.7% dan Sumatra Barat ±2% dari populasi penduduk Indonesia, yang dikenal etnis pedagang.
Hal lain yang mungkin terpikirkan adalah kebudayaannya seperti rumah gadang, tari piring, kain songket dan senjata karih-nya. Bagaimana dengan pahlawan dari Sumatra Barat? Sesuatu yang hampir tidak terpikirkan padahal ada 13 tokoh dari 143 tokoh yang berasal dari Sumatra Barat dan disebut sebagai pahlawan bangsa (2008). Mereka terdiri dari 1 tokoh sebelum kebangkitan nasional yaitu Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) dan 12 tokoh dari zaman pergerakan dan kemerdekaan.
Ke-12 tokoh tersebut yaitu:
Hal yang menarik disini yaitu tokoh-tokoh pahlawan Sumatra Barat ini mayoritas memiliki cara pandang, ideologi yang berbeda, dan konsep yang dianutnya adalah konsekuen dan konsisten. Dengan perbedaan mereka dapat menjadi pahlawan berarti perbedaan itu bukanlah cela atau dosa melainkan suatu yang indah dan amanah. Itulah yang dapat kita pelajari dari para pahlawan Sumatra Barat tersebut.
Ikuti apa kata hati dan pergunakan etika bukan mengikuti keadaan dan kondisi karena takut dikucilkan atau karena keinginan akan kekuasaan semata. Jadikan pribadi seorang yang memiliki cita-cita sejati bukan oportunis dan pragmatis.
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi buku:
Martini Purwo,"Aku Mengenal Pahlawan Bangsaku", Talenta Media Utama, Jakarta, 2008
Referensi photo: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2rIYfJFZgkvr5G2G1NGf1mjOiMZULldv3jnM9Jm98V043p8V-ps_AIQBlUbFn2KhxwXn7QHBl0zvi0sFveHWseuvxAMGpUbwbmTS14CFIm3xoCNidi9-rDkzLV9X1GwcGmVo5H-zjFMo/s200/imam+bonjol.jpg
Rabu, 11 Maret 2009
Ruang Waktu Stasiun Tanjung Priuk
Melintasi rel adalah hal yang biasa walau saya percaya tidak semua orang pernah merasakan nikmatnya naik kereta api. Lalu bagaimana jika melintasi waktu dan ruang? Hal yang luar biasa dan saya ingin mengajak pembaca dalam perjalanan stasiun Tanjung Priuk ini.
Dari tidak ada menjadi ada. Itulah sebuah perjalanan dan saya sangat berharap akan daya imajinasi anda.
Pembangunan dimulai dengan jalan rel kereta yang menghubungkan pelabuhan Sunda Kelapa dengan pelabuhan Tanjung Priuk. Rel yang selesai pada tahun 1877 ini digunakan untuk mengangkut material sebagai bahan pembangunan Pelabuhan.
Tunggu!!! Pembangunan pelabuhan? Benar, setelah dibukanya Terusan Suez di Mesir pada November 1869 perdagangan Eropa dan Asia semakin ramai sehingga pelabuhan Sunda Kelapa makin hari dianggap semakin tidak memadai sehingga dibutuhkannya sebuah pelabuhan baru dengan perlengkapan modern.
Setelah rel maka dibangunlah Stasiun Tanjung Priuk yang diresmikan pada 3 November 1885. Perlu diingat, dahulu kereta api adalah transportasi yang aman dan tepat dikarenakan pinggiran kota Batavia adalah hutan dan rawa. Sehingga pengoperasian stasiun ini menyebabkan pusat perdagangan berpindah ke pelabuhan Tanjung Priuk dan membuat stasiun Pasar Ikan hilang keperkasaannya.
Perjalanan kisah belum dimulai karena Stasiun Tanjung Priuk yang tampak saat ini bukanlah stasiun yang dibangun tahun 1885 melainkan stasiun yang mulai dibangun tahun 1914 yaitu pada masa Gubernur Jendral AFW Idenburg (1909-1916) dan berada 1 Km di sebelah selatan bangunan stasiun yang pertama. Pembangunan stasiun yang baru dilakukan karena keramaian pelabuhan yang membuat stasiun pertama sudah tidak memadai lagi.
Lebih kurang satu dekade kemudian, ulang tahun ke-50 Staats Spoorwegen (6 April 1925), Stasiun Tanjung Priuk diresmikan dan di saat bersamaan dilakukan pembukaan elektrifikasi jalur kereta api di Batavia yang dilayani oleh kereta lokomotif listrik seri ESS (Electrische Staats Spoorwegen) seri 3200. Saat ini yang tersisa dari lokomotif tersebut hanyalah seri 3201yang direhabilitasi pada Juli 2007 dan diberi nama si Bonbon. Bicara si Bonbon kuteringat bahwa benda yang merupakan saksi sejarah ini kabarnya akan diletakan di Stasiun Tanjung Priuk ini.
Perjalanan waktu terus berlanjut, dua dekade kemudian yaitu 16 September 1945 (setelah Jepang kalah), Laksamana Peterson tiba di stasiun ini. Seseorang yang bertugas melucuti tentara Jepang dan mengirimnya kembali ke negaranya; dan membebaskan para tawanan serta interniran Sekutu. Itulah sebagain dari sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Memasuki abad XXI, sejak 21 Januari 2002, kemegahan Stasiun Tanjung Priuk mulai hilang dikarenakan regulasi oleh PT Kereta Api yang tidak lagi mengoperasikan KA (kereta api) kelas ekonomi tujuan Surabaya, Solo, Semarang. Menyebabkan stasiun ini hanya mengoperasikan dua KA kontainer untuk tujuan Bandung dan Surabaya. Masa-masa sebelum 2009, stasiun ini berubah menjadi suatu tempat dengan kesan angker, bau pesing, banyaknya biro-biro perjalanan, gubuk-gubuk liar disamping rel kereta, dan PSK (pekerja seks komersial) di malam hari.
Setelah 2009, harapan untuk mengenang kejayaan muncul kembali, dengan dilakukan renovasi dan pembersihan. Dikabarkan 20 Mei 2009 mendatang stasiun ini akan dioperasikan kembali untuk rute dalam kota dengan KRL (kereta api listrik) antara lain Tanjung Priuk- Kota dan Tanjung Priuk Jatinegara.
Perjalanan waktu telah selesai, sekarang saatnya perjalanan ruang.
Stasiun Tanjung Priuk yang baru memiliki luas 34134 meter dengan gaya kontemporer dan merupakan karya arsitektur CW Koch. Dimana ditangannyalah stasiun ini menjadi sangat monumental karena memiliki delapan peron, bangunan yang bertumpu pada ratusan tiang pancang, memiliki atap penutup dari beton, hiasan kaca patri dan ornamen profil keramik pada dinding. Dalam catatan dikatakan pula bahwa stasiun ini memiliki bar, berhubungan dengan pelabuhan, ruang pesta, dan tempat penginapan. Tapi, dimanakah itu?
Bar, bila masuk dari pintu utama maka anda akan melihat loket-loket dan kemudian lobi utama. Nah disebelah kanan anda itulah tempat yang diduga sebagai bar karena ada suatu meja seperti meja resepsionis, disampingnya terdapat ruang untuk menunggu. Bila anda kesempatan cobalah naik ke atas, anda akan melihat sebuah cerobong yang diduga untuk memasak makanan. Sebelum terlewatkan cobalah anda naik sekali lagi maka anda akan berada di atap gedung ini.
Berhubungan dengan pelabuhan dan ruang pesta diduga merupakan ruang bawah tanah. Tapi sangat disayangkan ruangan ini telah tergenang air.
Ruang penginapan berada di sayap kiri dan kanan bangunan. Bila ingin melihat, cobalah melangkah ke peron; di sebelah kanan ditemukan ruangan-ruangan yang digunakan sebagai kantor. Bagian atas kantor inilah tempat penginapan karena banyaknya ruangan sebesar kamar untuk menaikinya ada tangga di bagian ujung kantor ini.
Oyah, di ujung peron bagian tengah ada sebuah menara yang saat ini digunakan sebagai ruangan kontrol. Bila anda masuk ruang ini anda akan melihat sebuah penggontrol wesel yang mana masih manual dan bel. Yuk, coba menggerakannya bila diizinkan. Meskipun akan diganti dengan yang elektrik, alat kontrol ini diharapkan akan dipertahankan keberadaannya sebagai bahan untuk belajar.
Itulah perjalan ruang. Sebagai pemicu untuk rasa penasaran kalian, di Stasiun Tanjung Priuk ini memiliki banyak jalan dan ruang rahasia; dan saya sudah menemukan beberapa. Bagaimana dengan anda?
Enjoy, peace and love from Sukra.
Gambar 1: Sesudah renovasi
Gambar 2 dan 3: Sebelum renovasi
Referensi:
Artanto Rizky Cahyono,"Kisah dan Sejarah Stasiun Tanjung Priuk", IPRS, Jakarta, Januari 2009.
Kamis, 05 Februari 2009
Catatan Kampung Pecah Kulit
"Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan akan penghianat Pieter Erberveld yang dihukum. Tak seorangpun sekarang atau untuk selamanya akan diizinkan membangun, menukang, memasang batu bata atau menanam di tempat ini. Batavia, 14 April 1722"
Ini adalah arti dari sebuah monumen yang ditulis dalam bahasa Belanda dan Jawa kuno yang saya baca di Stadhuis Batavia. Awalnya saya tak menyadari keberadaan monumen ini, sampai suatu saat saya terhalusinasi ke dalam sebuah cerita.
Saya berdiri di sebuah monumen dengan tulisan yang sama akan tetapi terdapat sebuah tengkorak batu yang ditusuk tombak pada bagian atas monumen. Apa maksudnya? Hal yang pasti dari sini, saya melihat suatu pemandangan yang kejam dan sadis.
Tertanggal 22 April 1722, 19 orang (3 diantaranya adalah wanita) dibunuh secara menjijikan. Punggung diikat pada sebuah salib, daging kaki dan dada dicungkil keluar. Tubuh dibelah dari bawah keatas, jantung dikeluarkan dan kemudian badan ditarik oleh 4 kuda ke berbagai penjuru. Prakkkkk, badan terbelah menjadi 4 bagian. Ini bukan suatu pandangan yang layak ditonton karena akan menjadi sebuah trauma, mimpi buruk selama manusia itu bisa bernafas. O yah kesadisan belum selesai, dikatakan kepala mereka akan ditancapkan di luar kota untuk santapan burung.
Dalam pembantaian itu tampak ada seseorang yang paling ditunggu kematiannya yaitu Pieter Erberveld. Dikatakan inilah penghianat, Pieter Erberverd, yang merencanakan membunuh semua penduduk Belanda di Batavia pada malam Tahun Baru 1722. Saya tak percaya, seseorang berwajah Indo-Eropa akan membunuh seluruh warga Belanda.
Saya mencoba mencari tahu dengan bertanya pada orang-orang sekitar, siapa sosok pemuda yang dikenal dengan Pieter tersebut. Ternyata ia adalah putra dari Peter Erverveld seorang Jerman kaya dan seorang wanita Muang Thai. Dalam kesehariannya, dikenal sebagai orang yang berpendidikan, memiliki hubungan dengan putra-putra Suropati, dan suka membagikan piringan tembaga kepada pengagumnya.
Pada saat bersamaan saya mendengar bahwa isu kematian pemuda tersebut adalah akibat sebuah fitnah oleh budak yang pernah bekerja dan tidak suka padanya. Fitnah bahwa Pieter berkeinginan untuk menjadi Tuan Gusti, kepala Kota Batavia, dan sahabatnya Pangeran Kartadria hendak menjabat patih daerah luar kota. Sehingga, mereka merencanakan pembunuhan tersebut. Akibatnya 3 hari sebelum rencana pembunuhan berlansung, mereka ditangkap yang kemudian dilakukan pemeriksaan oleh Landdrost (semacam jaksa). Landdrost menggunakan jalan penyiksaan untuk sebuah pengakuan yaitu dengan menggantungi timbangan yang pemberatnya terus ditambah, dan rambutnya dipotong. Hasil pengakuan yang patut dipertanyaan karena dikabarkan sangat kabur dan tidak cocok satu dengan yang lain.
Apakah fitnah dan kabar tersebut benar atau karena keinginan beberapa pejabat tinggi VOC untuk menyingkirkan orang biasa dari tanahnya demi keuntungan mereka sendiri. Kebenaran pernyataan ini hanya diketahui oleh Gubernur-Jenderal Zwaardecroon yang mana kuburannya sekarang terletak di gereja Portugis.
Tunggu dulu, kenapa telah ada monumen sebelum kejadian tersebut berlansung. Tak percaya lihat tanggal di monumen 14 April 1722, sedangkan kejadian pada 22 April 1722. Hal yang aneh, bagaimana monumen berdiri sebelum kejadian terjadi. Apakah ini berarti telah ada hukuman pengadilan sebelum perkara selesai?
Hal pasti dan hingga saat ini masih banyak terjadi di negara republik yang merdeka dan demokrasi yaitu demi politik, kekuasaan dan keuntungan masih melakukan dengan berbagai cara untuk menjatuhkan lawannya yang mana tidak kalah sadis dan kejam yaitu mengejek, menghina, melecehkan, memfitnah, menghianati, dll. Tentu masih ada yang terjadi dalam bentuk anarkis, dan pembunuhan. Apa kata sejarah dan anak cucu nanti.
Saya sadar dari cerita suram tersebut dan lalu bertanya dari manakah monumen ini berasal? Dikatakan bahwa monumen ini berasal dari kampung Pecah Kulit yang saat ini telah menjadi showroom mobil Toyota di jalan Jayakarta.
Sebagai informasi pemberian nama kampung pecah kulit ini ada dua versi yaitu karena kejadian sadis dan kejam tersebut atau karena pekerjaan ayah Pieter sebagai penyamak kulit.
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi:
A. Hauken SJ, "Tempat-tempat bersejarah di Jakarta", Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1997.
"Intisari: Batavia Kisah Jakarta Tempo Doeloe", Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1988.
Photo by Eileen
Senin, 05 Januari 2009
Istana Buitenzorg Bogor
Tampak dari kejauhan sebuah bangunan satu tingkat dengan arsitektur Eropa abad IX dengan taman yang luas nan indah dan ratusan ekor rusa yang induknya didatangkan lansung dari Nepal dan India. Itulah istana tanpa kekhawatiran atau masalah atau kesulitan yang lebih dikenal dengan Buitenzorg atau Sans Souci.
Istana yang tampak di kaki gunung Salak merupakan istana yang dibangun untuk ke-2 kalinya dengan gaya yang berbeda dengan istana yang pertama. Hal ini dikarenakan gempa bumi yang dashyat akibat letusan gunung Salak. Tapi tiada salah sedikit menilik ke belakang, awal kisah istana ini.
Diawali dengan sebuah keinginan, layaknya orang kaya di Jakarta, mencari sebuah tempat peristirahatan yang sejuk, damai, tentram. Pada tanggal 10 Agustus 1744, orang-orang Belanda yang dipimpin oleh seorang Gubenur Jendral G.W. Baron Van Imhoff melakukan pencarian dan ditemukanlah sebuah kampung kecil yang damai dan strategis. Kampung dengan nama Kampong Baroe merupakan sebuah kampung yang merupakan wilayah bekas kerajaan Pajajaran di hulu Batavia.
Bukan basa-basi, 1 tahun kemudian Gubenur Jendral Van Imhoff membangun pesanggrahan Buitenzorg yang mana sketsanya mencontoh arsitektur Blenheim Palace, kediaman Duke of Malborough (nenek moyang Diana, Putri Wales) dekat kota Oxford di Inggris. Sedih, belum lama berselang pesanggrahan ini mengalami kerusakan berat akibat serangan oleh rakyat Banten yang tidak suka terhadap kompeni. Perang yang lama (1750-1754) dan dipimpin oleh Kiai Tapa dan Ratu Bagus Buang ini dikenal dengan perang Banten. Hal ini memaksa Gubenur Jenderal Jacob Mossel memperbaiki kembali pesanggrahan ini dengan mempertahankan bentuknya yang merupakan replika bangunan di Inggris tersebut.
Perjalanan bangunan pertama ini belumlah selesai melainkan perjalanan peralihan dari persanggrahan menjelma menjadi sebuah istana barulah dimulai. Gubenur Jenderal Willen Daendels (1808-1811) memperluas bangunan dengan menambah bangunan di sebelah kiri dan kanan, serta menjadikan bangunan bertingkat dua. Masa Inggris berkuasa, wakil gubenur Jendral Stamford Rafless menata ulang kebun halaman yang menjadikan taman model Inggris. Ketika Belanda kembali berkuasa, Gubenur Jenderal Baron van der Capellen (1817-1826) membangun menara di tengah-tengah gedung induk dan taman model Inggris dijadikan sebuah kebun percobaan untuk penyelidikan tanaman tropis. Kebun percobaan ini pada tanggal 18 Mei 1817 diremsikan menjadi Kebun Raya yang mana pendirinya adalah Prof. C. G. C Reinwardt. Kebun Raya ini kemudian dikenal dengan Kebun Raya Bogor.
Tapi apa daya pada tanggal 10 Oktober 1834, kemalangan akibat faktor alam tak terelakan. Bangunan replika Blenheim Palace telah menjadi bagian dari sejarah dan sekarang lembaran baru untuk sebuah bangunan yang didirikan pada tahun 1850 yaitu masa Gubenur Jenderal Duy Mayer van Twist..jpg)
Fungsi Istana Buitenzorg sebagai kediaman resmi para gubenur jenderal Belanda sejak 1870 haruslah berakhir pada tahun 1942 yaitu pada masa Tjandra van Starkenborg Stachourwer. Istana ini terpaksa diserahkan kepada Jenderal Inamura sebagai akibat pendudukan Jepang di Indonesia. Kisah perpindahan tangan terus berlanjut. Usai Perang Dunia II, 200 pemuda Indonesia yang terkabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) menduduki istana Buitenzorg dan mengibarkan mendera merah putih. Tak lama berselang, mereka diserbu tentara Gurkha. 31 Desember 1949, akhirnya istana Buitenzorg ini diserahkan oleh Belanda kepada Indonesia.
Januari 1950, Istana ini mulai dipergunakan Indonesia dan nama instana kepresidenan Bogor mulai dipergunakan. Saat inilah istana Bogor resmi menjadi satu dari enam Istana Presiden. Istana Bogor ini dipergunakan untuk acara-acara kenegaraan yang kerap didatangi oleh tamu penting dari dalam maupun luar negeri. Bukti nyatanya adalah pernah terjadi panca negara pada 28-29 Desember 1954 yang merupakan lanjutan di Colombo sebagai persiapkan Konferensi Asia Afrika di Bandung 1955, Pertemuan APEC pada 15 November 1994, dan masih banyak lainnya.
Istana Bogor atau Istana Butenzorg ini menyimpan berbagai karya seni yang tak ternilai harganya seperti karya pelukis Indonesia Basuki Abdullah dan masih banyak lagi. Keindahan karya seni tak hanya ada di dalam istana karena di halamanpun terdapat karya seni seperti patung Si Denok karya Trubus, "The Hand of God". Bangga rasanya memiliki istana itu di Indonesia.
Sebuah rasa kebanggaan dimulai dari sebuah rasa memiliki.
Catatan. Rusa yang didatangkan dari India dan Nepal adalah rusa Chital (Axis Asis), tapi bila diperhatikan bahwa sebagian dari rusa seperti rusa Sika (Cervus Nippon) dari Timur Laut China yang diceritakan didatangkan pada masa pemerintahan Soekarno. Membedakan kedua jenis ini yaitu tanduknya. Chital memiliki tanduk yang menjulang tinggi dan Sika memiliki tanduk yang rendah dan sedikit bulat. Untuk kepastian datang dan buktikan sendiri saja yah...
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi:
http://liburan.info/content/view/643/43/lang,indonesian/
http://www.presidensby.info/istana/index.php/statik/sejarah/bogor.html
Selasa, 25 November 2008
Pelajaran dari Kisah 3 Kerajaan
Ini adalah sebuah sastra klasik China yang ditulis oleh Luo Guan Zhong (1330-1400), dan pemimpin China yang tersohor Mao Zhe Dong membacanya lebih dari 70 tahun. Sastra klasik yang dikenal dengan Romance of Three Kingdom ini, ditulis dalam 120 bab yang menceritakan sejarah era tiga negara pada tahun 220-280.
Dalam hati bertanya, ada apa dengan sastra klasik ini sehingga dapat terkenal dan mendunia?
Sastra ini menceritakan, pada akhir kerajaan Han Timur "Dong Han" ( 25 SM- 220M) terjadi pemberontakan rakyat yang dipimpin oleh Zhang Jiao dan dikenal dengan pemberontakan Huang Jin (Slayer Kuning). Dengan kejadian ini kekuasaan kerajaan telah hilang 3/4 wilayahnya yang menyebabkan terbentuknya kekuatan penguasa militer yang bertugas untuk memberantas pemberontakan tersebut. Kejadian tersebut mengakibatkan sentralisasi kekuatan dan dilanjutkan dengan masa peralihan atau era tiga negara.
Kisah yang kompleks dan paradoks, bila dicerna baik-baik akan terbuka jalan pemikiran mengenai metode tri tunggal paradoks yang memiliki fungsi untuk menganalisa masalah sosial baik secara makro maupun mikro.
Tri tunggal paradoks dalam Romance of Three Kingdom ini:
Dalam tri tunggal paradoks ini, pada akhirnya disatukan oleh si pemenang yaitu Si Ma Yan (236-290) yang merupakan cucu dari Si Ma Yi dan anak dari Si Ma Zhao dengan melakukan kudeta dan mendirikan Jin (250-316) Barat .
Walaupun kisah yang diceritakan sangat menarik ada yang tak kalah menarik yaitu sebuah jawaban yang tertera di tembang puisi pembukaan dan awal kalimat bab 1 yang saya coba terjemahkan secara bebas.
Gelombang sungai Chang Jiang yang bergelora mengalir jauh ke timur.
Percikan Ombak mendulang habis para pahlawan.
Benar atau salah, sukses atau gagal semua kembali ke alam hampa.
Gunung Hijau masih tegar disana.
Matahari senja terbenam berulang dengan irama yang sama.
Ada sepetak tanah di tepi sungai.
Pemancing dan penebang pohon telah beruban.
Melihat bulan pada musim gugur
Mendengar angin sepoi di musim semi
Hal yang rutin dijalankan.
Sepoci arak keruh, bersuka cita saat bertemu.
Peristiwa dari zaman dahulu hingga sekarang
Disajikan dalam wacana ringan dan tawa.
Menceritakan dan menganalisa seluruh kekuasaan di dunia, yang terberai lama akan menjadi satu dan kesatuan yang lama akan terberai.
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi photo: http://www.shaolinkuntou.nl/images/guanyu_6.jpg
Selasa, 04 November 2008
Kronologis Gajah di Gedung Jodoh
Gedung Jodoh namanya, karena pada zaman dulu disinilah banyak pria dan wanita memulai kisah percintaannya. Hal ini disebabkan, masih jarangnya tempat-tampat hang out untuk pemuda dan pemudi di Jakarta. Bayangkan Ancol masih berupa rawa, Taman Mini belum berdiri (1970-an), Monas masih berupa tanah lapang. Pilihan mereka, hanyalah kebun binatang, atau gedung ini. Makanya banyak kisah cinta bersemi di bangunan ini.
Gedung Jodoh keberadaanya dimulai pada tahun 1778 dan dikenal dengan nama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Himpunan Batavia Seni dan Ilmu Pengetahuan). Gedung Jodoh dibuka secara umum pada tahun 1868, yang mana berada di sisi jalan Koningsplein (Jl. Merdeka Barat no 12, Jakarta, Indonesia). Saat ini gedung tersebut lebih dikenal dengan Museum Gajah karena keberadaan patung gajah perunggu di muka gedung tersebut.
Ketika kubaca kronologis patung gajah perunggu tersebut, diri merasa bangga dan malu. Ketika sahabat menambahkan sebuah informasi, diri serasa tak percaya, apakah hal tersebut adalah kenyataan yang benar?
9 Maret 1871, Raja Chulalongkorn atau Raja Siam V berangkat dari Siam (sekarang Thailand) menuju Singapura dengan kapal Pitthayamronnayuth atau Regent. 16 Maret 1871, Raja Chulalongkorn tiba di daratan Singapura. Di Singapura, Raja melakukan berbagai kegiatan dan kunjungan. 23 Maret 1871, Raja meninggalkan daratan Singapura menuju pulau Jawa.
27 Maret 1871, Raja turun ke darat yang dikenal dengan Batavia. Hal yang dilakukan antara lain perjalanan menuju Meester Cornelis untuk meninjau pabrik mesiu, mengunjungi barak militer untuk meyaksikan atraksi keterampilan militer, Sekolah Koning Willem III (perpustakaan nasional di Salemba, Jakarta), panti asuhan, akademi militer di Weltevreden melihat latihan dan koleksi meriam, rumah sakit (RSPAD Gatot Subroto), Lapangan Raja (lapangan monas), Klub Harmonie(klub sosial warga elite) yang bangunannya dihiasi seperti mahkota 7 tingkat, Mahkamah Agung (Museum Seni Rupa dan Keramik), Rumah Pabean, Jembatan Tarik (Jembatan Kota Intan), beberapa toko, Balai Kota (Museum Fatahilla), kebun binatang (Taman Ismail Marzuki), Gereja Inggris (Gereja Anglican di Tugu Pak Tani), Gereja Khatolik, dll.
1 April 1871, Raja Chulalongkorn melanjutkan perjalanan menuju Semarang. Perjalanan Raja antara lain pabrik bubuk mesiu, rumah sakit, rumah sakit jiwa, pabrik kain, asrama perempuan, stasiun kereta, bengkel produksi kereta, proyek pembangunan jembatan, penjara khusus, dll.
6 April 1871, Raja kembali ke Siam yang mana singgah terlebih dahulu ke Singapura pada tanggal 10 April. 15 April 1871, Raja telah sampai di negeri Siam.
Sebagai ucapan terima kasih, Raja Chulalongkorn mengirimkan 2 patung gajah perunggu. Satu untuk Singapura (tidak jauh dari patung Raffles) dan satu lagi untuk Indonesia (depan Museum Gajah). Dari kunjungan ke Jawa, diberitakan bahwa raja mendapatkan inspirasi dan melakukan proses modernsasi antara lain pembangunan jaringan kereta api, membangun boulevard pertama di sekitar Sanam Luang (Lapangan Monas versi Thailand), sistem irigasi, berbagai jenis industri, dll.
Bangga rasanya mereka dapat membangun negara setelah berkunjung dari negeri Indonesia ini. Tapi apa daya sekarang, kita lah yang harus belajar dari negeri Gajah tersebut.Kisah lain dikatakan patung gajah perunggu adalah hasil barter yang dilakukan oleh penguasa Belanda di Hindia Belanda. Patung gajah perunggu dibarter dengan artifak candi Borobudur dan patung Ganesha di candi Singosari; yang mana benda-benda tersebut sekarang berada di museum nasional Bangkok. Informasi yang didapat di buku Jean Gelman Taylor yang bertajuk "Indonesia, People's and History". Diri masih tak percaya, tapi itulah kenyataan. Dalam hati berkata, apa arti pertukaran ini? dan berharap dengan pertukaran ini nama Indonesia semakin dikenal di dunia.
Terima kasih untuk Yosef Djakababa yang telah membantu dan sebagai sumber informasi.
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi:
Referensi photo:
http://www.thailandmuseum.com/thaimuseum_eng/bangkok/images/Pranakorn41.jpg
Jumat, 12 September 2008
Teka-Teki Lumpur
Di balik tanah terjadinya lumpur Lapindo terbesit sebuah kisah, yang menyatakan bahwa ini adalah tanah leluhur dan merupakan pusat kerajaan Singosari dan Majapahit. Sebelum masuk ke dalam teka-teki tanah leluhur, lebih baik mencari fakta-fakta yang sudah pasti kebenarannya.
Tanggal 29 Mei 2006, awal terjadinya semburan lumpur di jarak ± 200 meter dari sebuah sumur Bajar Panji 1 milik PT Lapindo Brantas yang terletak di desa Siring, kecamatan Porong, kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Bencana semburan lumpur tersebut telah mencakup area seluas 640 hektar, tapi hingga saat ini belum menemui cara untuk mengatasinya. Sampai kapan kisah sedih lumpur Lapindo berlanjut?
Fakta lain menyatakan semburan lumpur berasal dari kedalaman 610-1830 meter. Banyak lembaga melakukan penyelidikan dan menyatakan bahwa lapisan tanah dari kedalaman tersebut adalah lapisan dengan formasi Kalibeng ( tanah purba) yang berusia 5 juta - 1.8 juta tahun. Hubungan apa yang terjadi antara tanah tempat terjadinya lumpur dengan tanah di Sangiran, tempat ditemukan manusia purba Pithecantrophus? Yang dapat saya tunjukan hanyalah elemen tanah yang merupakan hasil data dari MMM research center. Data ini hanya sebagai catatan untuk tidak hilang dan mungkin berguna di kemudian hari.Teka-teki dimulai ketika eyang bergumam,"Lumpur. Lumpur. Bunga Padma dengan para dewa termenung. Fenomena terulang untuk kedua kalinya" Kening saya berkerut dan eyang berkisah:
Kerajaan Majapahit adalah kerajaan yang maha besar dan dilahirkan oleh seorang dewi pertiwi yang merupakan titisan Dewi Prajna Paramita (Ken Dedes, anak empu Purwa Widagda). Dari keturunannya akan menjadi cikal bakal keturunan raja-raja di tanah Jawa.
Alkisah, seorang pertapa titisan Vajra Pani terlahir dengan nama Dyah Dewi Gayatri. Ia adalah putri dari anak raja Kertanegara, bersuami Raden Wijaya. Raden Wijaya sendiri adalah seorang raja yang mampu memukul mundur pasukan terkuat sejagat pada saat itu (tentara Mongol Kubilai Khan) dengan senjata pusaka kelornya. Dyah Dewi Gayatri memiliki anak perempuan bernama Tribhuwana Tungga Dewi yang merupakan titisan Vajra Dhara dan cucu bernama Hayam Wuruk. Pada masa itulah ada mahapatih yang tersohor yaitu Gajah Mada titisan Vajra Kilaye (1300-1364) dan patih Adityawarman titisan Vajra Bhaiwara yang mampu meredam pemberontakan dan kudeta yang terjadi di tanah leluhur dan mempersatukan bumi nusantara, ingat sumpah "Amukti Palapa" pada tahun 1334 oleh Gajah Mada.
Keningku makin berkerut dan bertanya pada diri, apa hubungan kisah eyang dengan gumamannya dan lumpur. Eyang melanjutkan:
Zaman dulu bumi pertiwi ini identik dengan Majapahit. Kerajaan yang berdiri karena ada titisan dewa berdiri di atas bunga Padma. Para titisan seperti Vajra Dhara, Vajra Kilaye, Vajra Bhaiwara mendukung kebijakan raja Hayam Wuruk (Dewa Maha Vairocana) untuk meredam para petinggi kerajaan yang terkontaminasi akan lumpur dosa dan KKN. Mereka (para titisan) menggunakan ilmu "Gajah Genih", "Lembu Rangga", "Padma Semi", "Sambuk Bumi"......Stoppp
Maaf kuputus ceritanya karena kumerasa Eyang semakin ngawur dan tak jelas arahnya. Eyang tersentak dan sadar kemudian berkata padaku, "bacalah 2 buku ini tentang sejarah Jawa":
Akhir kata, kedapat sebuah cahaya terang. Masalah lumpur bukanlah tiada solusi. Penanggulangannya adalah penanganan dampak kerusakan lingkungan dan kehidupan sosialnya. Bukan mencari pembuktian, pembenaran, pembohongan dan kambing hitam dalam status kemenangan atas hukum. Tapi kejujuran, ketulusan, kepedulian dan tanggung jawab dan status kemanusiaan atas keadilan.
Enjoy, peace and love from Sukra.
Jumat, 08 Agustus 2008
Kisah Maria Bersama Pulau Onrust

Hari Minggu adalah hari untuk istirahat dari kesibukan, bagaimana kalau berjalan-jalan ke pulau tanpa istirahat yang dikenal dengan pulau Onrust dan berada di Teluk Jakarta. Rasa penasaran menghantui diri saya akan kondisi pulau tersebut. Apakah mungkin ada yang lebih sibuk daripada kota metropolitan Jakarta di Indonesia?
Perjalanan dimulai dari Stadhuis Batavia sebagai tempat berkumpul yang kemudian berangkat ke Muara Kamal untuk menyewa perahu menuju pulau Onrust tersebut. Setelah kurang lebih 30 menit naik perahu motor, tibalah sudah di pulau tersebut dan sosok wanita berusia 28 tahun dengan nama Maria datang untuk berbagi kisah dengan kami. Berikut kisahnya:
Selamat siang dan selamat datang di pulau Onrust. Nama Onrust berasal dari bahasa Belanda yang berarti pulau tanpa istirahat atau pulau sibuk. Pulau ini dikenal juga dengan pulau kapal karena banyak kapal VOC yang berlabuh dan melakukan perbaikan. Kapiten-kapiten terkenal yang pernah mampir disini antara lain James Cook penemu benua Australia dengan kapalnya Endeavour pada tahun 1770 dan Albert Tasman yang menemukan pulau Tasmania.
Dahulu sebelum VOC masuk pada tahun 1610, pulau ini adalah pulau sengketa antara Jayakarta dan Banten. Karena VOC terus berkembang di daerah kekuasaan Jayakarta, VOC meminta pulau ini untuk dijadikan galangan kapal kepada Jayakarta. Hal ini dipenuhi dalam sebuah perjanjian yang dilakukan oleh L. Hemit dan pangeran dari kerajaan Jayakarta. Inilah titik awal dari sebuah cerita pulau Tanpa Istirahat.
Perjalanan pertama pulau ini dimulai pada tahun 1613 dengan dibangunnya sebuah galangan kapal. Tahun 1656 dibangun sebuah benteng belah ketupat dengan dua bastion yang kemudian diubah menjadi segilima yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan benteng Beekhuis pada tahun 1671. Pembangunan kincir angin untuk penggergajian kayu dilakukan pada tahun 1674 dan 1691 untuk kincir angin kedua. Pada tahun 1772 dibangun juga sebuah gereja di pulau ini. Perjalanan pertama pulau ini diakhiri oleh serangan Inggris yang dipimpin oleh HL Ball pada tahun 1795.
Perjalanan pulau dimulai kembali pada tahun 1803 akan tetapi kembali dihancurkan oleh Inggris pada tahun 1806 dibawah pimpinan Admiral Edward Pellow dan pulau ini menjadi milik Inggris yang kemudian ditinggalkan pada tahun 1816. Dua belas tahun lamanya Onrust tiada bersua dan akhirnya kembali terdengar setelah GA Baron Van Der Capellen membangun kembali pulau ini. Semakin terdengar keberadaan pulau ini ketika ada dok terapung yang dibangun pada tahun 1856. Tapi apa daya alam tidak menginginkannya pada tahun 1883 terjadi letusan gunung Krakatau yang maha dashyat sehingga menghancurkan pulau ini untuk ketiga kalinya dan menjadikan pulau ini tidak bernyawa hingga awal abad 20.
Tahun 1905, seberkas cahaya akan kehidupan pulau ini mulai tampak dengan berdirinya stasiun cuaca. Pada tahun 1911 pulau ini semakin ramai dengan berdiri sanatorium TBC dan dijadikannya karantina haji.
Meskipun pernah menjadi karantina haji, pulau ini juga menjadi pulau yang menyedihkan karena pulau ini dijadikan tempat tawanan pemberontak antara lain tawanan dari peristiwa perahu "tujuh propinsi" yang terjadi pada tahun 1933, tawanan Jerman yang disinyalir sebagai antek Hitler pada tahun 1940, dan bahkan sebagai tempat eksekusi Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo yang merupakan pimpinan DI/TII. Pada masa kemerdekaan, pulau ini menjadi tempat karantina bagi penderita lepra dan pada tahun 1960-an pulau menjadi penampungan gelandangan dan pengemis.
Sekarang pulau ini tinggalah menyisakan dua warung, penjara, beberapa meriam dan sebuah rumah dokter yang mana digunakan sebagai museum. Saya hanya hendak menunjukan bahwa yang tersisa di pulau ini tinggallah puing-puing dari rumah sakit, barak karantina dan fondasi dari benteng saja. Hal menyedihkan lainnya adalah pulau yang dahulu luasnya 12 hektar kini tinggal 7.5 hektar. Sehingga pulau tanpa istirahat ini bagaikan telah istirahat untuk selamanya.
Untuk para sahabatku. Sebelum meninggalkan pulau Onrust ini untuk kembali ke Jakarta hendaklah mampir ke tiga pulau sahabat yaitu pulau Kelor, Kyuper dan Sakit.
Pulau Kuyper adalah sebutan lain untuk pulau Kayangan atau pulau Cipir. Di ujung pulau tersebut anda dapat melihat sebuah dermaga panjang yang menuju ke pulau Onrust ini yang mana bagian air yang terdalam menggunakan fondasi pontoon. Disana anda masih dapat melihat puing-puing gereja dan rumah sakit yang mana dapat diambil fotonya untuk kenang-kenangan.
Pulau Kelor, bila anda beruntung anda mungkin dapat singgah ke pulau ini karena sering kali ombak di pulau ini sangatlah besar. Janganlah bersedih karena meskipun dengan kapal anda masih dapat menyaksikan kemegahan sebuah benteng dari sebuah pulau yang luasnya hanya 3 hektar. 23 awak perahu yang meninggal dari peristiwa perahu "tujuh propinsi" dikuburkan di pulau tersebut.
Pulau sakit yang sekarang lebih dikenal dengan pulau Bidadari. Disana anda akan menemukan sebuah menara Martello. Menara Martello di pulau itu adalah sebuah bangunan yang memiliki fungsi sebagai kastil dan pengawas yang memiliki bentuk oval. Di bagian bawah terdapat 7 kamar yang dipartisi oleh tembok dan sebuah ruangan tertutup sebagai tempat penyimpanan amunisi, pada bagian tengah terdapat dinding berbentuk lingkaran sebagai tempat penyimpanan air bersih dan untuk memasak.
Sekian cerita dariku. Sahut Maria.
Maria meninggalkan kami agar kami bebas mengelilingi pulau. Rasa penasaran akan siapa dirinya, membuat kami mengikutinya. Kami mengikutinya hingga Sampai di sebuah tempat dan disana kami melihat sebuah nisan dengan tulisan VOC yang bila diterjemahkan sebagai berikut:
mayatnya dikubur
walaupun ia pantas
hidup bertahun-tahun lamanya
seandainya Tuhan
berkenan demikian
namun rupanya, Jehova
menghalangi itu dengan kematian
Maria hilang, Maria tiada lagi
bukan! saya tarik kembali kata itu
karena diucapkan tanpa pikir panjang
maka semoga kelancanganku
lansung didenda
kini Maria baru sungguh-sungguh hidup
sejak hidup dekat Tuhannya
lahir di Amsterdam
tanggal 29 Desember 1693
meninggal tanggal 19 November
1721 di Onrust
Akhir cerita, nikmatilah perjalanan di pulau tanpa istirahat.
Sebagai informasi:
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi:
A. Hauken SJ, "Tempat-tempat bersejarah di Jakarta", Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1997.
http://pulauseribujakarta.com/pulau-seribu-voc/
Senin, 14 Juli 2008
Mengejar Harta si Bonbon
Menurut dokumentasi yang kuperoleh harta si Bonbon bukanlah permen. Meskipun namanya identik dengan sebuah produk permen, tapi dalam hal ini tidaklah mungkin dengan berat 75 ton, dan panjang 15 meter. Nilai harta ini bila dikalkulasikan oleh orang awam pada tahun 2006 adalah Rp 112.500.000,00 (setiap kilonya @Rp 1.500,00). Bagaimana bila harga dikalkulasikan oleh orang yang tahu akan harta ini? Bisa kaya tujuh turunan kali yah.
Oke, perjalanan mengejar harta si Bonbon dimulai. Berikut adalah catatannya:
Saat ini saya berada di Stadhuis Batavia. Berjalanlah ke arah tenggara, anda akan menemui sebuah gedung yang dibangun oleh Ghijsels. Masuklah ke dalam gedung, dan ikutilah spoorweg yang dibangun oleh Nederlandsc- Indische Spoorweg Maatschapij.
*Catatan: Perjalanan dimulai dari museum fatahilla menuju stasiun Kota dan pilih jalur kereta api jurusan Jakarta-Bogor.
Dalam perjalananku menaiki trein menuju pemberhentianku yang pertama, saya tak melihat sesuatu yang istimewa dari daerah ini. Saya hanya menyadari di satu sisi banyak rumah mewah bernuansa Belanda dan terdapat sebuah benteng kecil bernama Jacatra. Di sisi yang lain, saya melihat banyak kuburan dan hutan kelapa.
*Catatan: Cerita tentang Jayakarta dimana dahulu belum memiliki statiun dan trein adalah sebutan untuk kereta api.
Tibalah perhentian pertamaku. Sepanjang rumah gedongan yang kulalui terdapat pohon, yang mana buahnya seperti kacang mede raksasa berwarna hijau, isinya berwarna orange dan rasanya manis. Pada malam hari daerah ini berubah menjadi Princen Park, kehidupan yang menurut saya hanya ada dalam mimpi. Saya melihat ada gambar hidup, konkorsalias perlombaan keroncong, tonil, dan banyak wanita cantik yang memamerkan tubuhnya yang indah. Di belakang daerah ini ada sebuah daerah tempat para seniman tinggal, mereka menyebutnya tangkiwood.
*Catatan: Cerita tentang kondisi daerah Mangga Besar. Princen Park sekarang menjadi Lokasari.
Perjalananku berlanjut, pada pemberhentianku selanjutnya kuhanya melihat sawah dan sebuah gudang beras. Pada pemberhentianku ketiga, karena kondisi udara panas sekali saya duduk di sebuah rumah makan es ragusa Italia. Sepanjang pandang melayang kumelihat sebuah taman indah yang dipersembahkan untuk Ratu Wilhelmina. Di dalam taman itu terdapat pintu air dan sebuah benteng. Benteng dikenal dengan nama "gedung tanah" oleh warga sekitar tetapi dalam peta saya dituliskan dengan nama benteng Citadel.
*Catatan: Daerah Sawah Besar dan Juanda. Benteng Citadel sekarang menjadi Mesjid Istiqlal, yang konon memiliki terowongan bawah tanah yang satu menuju Pasar Ikan dan satunya menuju daerah Berland, Matraman.
Pemberhentianku ke empat dan hari ini adalah tanggal 31 Agustus. Kumelihat ada sebuah lapangan besar yang malam hari berubah menjadi sebuah pasar, yang mana pasar ini diadakan untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina. Di lapangan yang semerawut ini, ada sebuah gedung yang selalu ditakuti orang karena banyaknya orang kejam dan bengis, Hoopbiro namanya.
*Catatan: Cerita di kawasan Gambir tepatnya lapangan Monas. Hoopbiro adalah kantor polisi.
Perjalanan berlanjut, saya sampai pada sebuah kawasan dimana banyak sekali orang kondang di daerah ini. Tentulah tiada pantas bila patokannya pada orang kondang karena bertambahnya usia orang akanlah meninggal. Saya mencari dan mendapatkan sebuah gedung yang bernama De Bouwploeg yang mana merupakan kantor untuk membangun rumah mewah di daerah itu. Cocoklah gedung ini dijadikan patokan.
*Catatan: Gondangdia.
Perjalanan dilanjutkan dan pemberhentianku kali ini ada tiga patokan yaitu pasar, rumah sakit dan kebun binatang. Rumah sakit dan kebun binatang berdiri diatas sebuah tanah seorang pelukis terkenal yang bernama Raden Saleh.
*Catatan: Cikini. Kebun Binatang sekarang telah berubah fungsi menjadi Taman Ismail Marzuki.
Perjalanan saya dengan trein berakhir disini. Ini adalah daerah di mana saya dapat membeli budak yang berasal dari Manggarai, Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kuberjalan 12 menit ke arah selatan dari pemberhentianku ini. Ada sebuah gedung yang memiliki tugas untuk memelihara dan merawat spoorwegen. Bagian sisi pojok dan gelap gulita, saya letakan harta berharga ini.
*Catatan: Manggarai dan gedungnya bernama Balai Yasa Traksi Manggarai.
Catatan si Bonbon berakhir dan saya telah sampai di Balai Yasa Traksi Manggarai. Saat ini saya mencari harta si Bonbon disamping banyaknya harta lain yang tak kalah menarik. Karena keyakinanku akan istimewanya harta si Bonbon kuterus mencari, meskipun sempat lirik sana dan lirik sini untuk menyentuhnya dan memfotonya. Akhirnya saya ketemu juga, harta si Bonbon.
Bonbon adalah nama panggilan kesayangan untuk sebuah lokomotif listrik kelas 3200 yang digunakan pada tahun 1926-an hingga tahun 1976-an untuk melayani penumpang Jakarta-Bogor. Ia menjadi kesayangan karena menjadi satu-satunya lokomotif listrik (nomor 202 tapi yang tampak 201) yang ada di Indonesia, di mana dahulu ada 6 buah. Nama Bonbon ini diambil karena bentuknya seperti kardus permen bonbon. Versi kedua mengatakan karena suaranya berbunyi boo boo. Versi lain yang lebih meyakinkan yaitu karena bentuk rodanya. Bila dilihat pada salah satu sisinya maka ada sepasang pada bagian depan dan ada sepasang di bagian belakang sehingga disebut dengan bo-bo. Munculnya Bonbon di Indonesia adalah sebuah proyek elektrifikasi sebagai kado emas untuk ulang tahun ke 50, Staats Spoorwegen. Tahun 1925, bersamaan dengan diresmikannya stasiun Tanjung Priok, proyek elektrifikasi tersebut selesai. Buktinya adalah dipesannya lokomotif listrik kelas 3200 buatan Werkspoor-Heefmaf.
Akhir kata, harta ini hendak dijadikan monumen seperti halnya emas yang ada di Monumen Nasional (Monas). Hal ini hendak dilakukan karena dipercaya tidaklah mungkin menggerakan harta ini meskipun dengan tenaga 100 orang dewasa (normal). Untuk peletakan harta ini dengar-dengar akan diletakan di dekat Stasion Kota, tapi kepastiannya belumlah diketahui. Ingin tahu lebih jelasnya tentang si Bonbon tanyakan pada IPRS sahabat Bon-bon di www.sahabatbonbon.com
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi:
Shahab Alwi,"Betawi Queen of the East", Republika, Jakarta, 2002.
Hakin Abdul,"Jakarta Tempo Doeloe", Cetakan ke lima, Gria Media, Jakarta, 2001
http://www.irps.or.id/sahabat-bonbon/
Rabu, 09 Juli 2008
Malam Minggu di Kuburan Belanda (Taman Prasasti)

Jika orang mengatakan edan atau gila malam minggu ke kuburan, saya bilang itu adalah sensasi dan tantangan dalam uji nyali. Banyak orang malam minggu pergi ke mall, nonton film horror di bioskop, bukankah lebih menyenangkan ke kuburan yang lebih horror dan jika beruntung ketemu sama penunggunya.
Kuburan Belanda yang dikenal dengan sebutan Taman Prasasti ini meskipun kecil tapi menyimpan berjuta cerita dimulai dari sejarahnya, nisannya, patungnya, hingga misteri Kapten Jas. Kuburan yang terletak di jalan Kerkhoflaan (tahun 1940 dan sekarang bernama Jl Tanah Abang 1) pada awalnya memiliki luas 5.9 hektar sebelum akhirnya dipersempit menjadi 1.2 hektar akibat dibangunnya kantor Wali Kota Jakarta Pusat.
Sejarah singkat, bangunan atau pintu gerbang masuk kuburan dibangun pada tahun 1844. Hal ini, bukanlah berarti kuburan ini mulai berfungsi pada tahun 1844 melainkan tahun 1795. Jarak dari pusat kota (Batavia) menuju kuburan dapat dikatakan jauh pada saat itu (sekarang ditempuh dalam 15 menit dengan mobil) tentulah membutuhkan transportasi untuk mengangkut jenazahnya. Jenazah yang berasal dari rumah sakit (sekarang museum Bank Indonesia) di kota, dibawa melalui perahu sepanjang Kali Krukut (belakang gedung Departemen Penerangan, Jl Abdul Muis) menuju Kebon Jahe Kober (sebuah kampung kumuh yang sebagian besar warga Betawi). Kemudian jenazah tersebut dibawa dengan sebuah kereta hitam menuju pemakaman, di mana salah satu kereta ini masih dapat dijumpai di dalam Taman Prasasti ini.
Banyaknya batu nisan di Taman ini, tapi ada yang membuat penasaran yaitu tulisan HK pada sebagian nisan yang ada dan seringkali tulisan tersebut merusak informasi yang ada pada batu nisan tersebut. Tulisan HK berarti Hollandse Kerk yang berarti Gereja Belanda. Gereja Belanda yang didirikan pada tahun 1736 ini merupakan gedung tertinggi di Batavia pada saat itu dan pada tahun 1808 telah hilang akibat gempa bumi atau kebakaran sehingga makam J.P.Coen-pun sudah tidak diketahui lagi keberadaannya. Jika anda ingin mengetahui lebih dalam tentang nisan, anda dapat membaca buku berjudul "Makna Sosio-Historis Batu Nisan VOC di Batavia" oleh Lilie Suratminto.
Bila diperhatikan patungnya banyak yang berbentuk malaikat, hal ini dimungkinkan karena kesalah pahaman para pemahat atau perancang mengidentikan agama Khatolik dengan malaikat. Hal ini tidaklah penting karena hasil karya mereka menyebabkan diri saya bagaikan berada di Eropa. Ketika memasuki Taman ini di sebelah kiri ada sebuah bangunan yang menyimpan dua peti yaitu peti Bung Karno dan peti Bung Hatta. Peti Bung Karno adalah peti yang digunakan untuk mengangkat jenazahnya dari rumah sakit yang kemudian jasadnya dipindahkan sehingga peti tersebut kosong. Peti Bung Hatta hanyalah peti yang tak ternah dipakai, hanya dahulu dipersiapkan untuk dirinya.
Tokoh-tokoh yang pernah dimakamkan disini sangatlah banyak antara lain Dr HF Roll yang merupakan cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Olivia Mariamne yang merupakan istri Thomas Stamford Raffles (gubenur Hindia Belanda) dan pencetus pangembangan Kebun Raya Bogor.
Misteri Kapten Jas adalah hal yang paling menarik karena makamnya berada dekat pohon Mimbar besar dan sering berbau kemenyan. Menurut lagenda Kapten Jas tak pernah hidup dan tak pernah mati dimana cerita ini didapatkan pada sebuah karangan berjudul "Naar aanleiding van teekeningen van het oude Batavia" oleh H.D.H. Bosboom. Cerita ini dimulai dari sebuah Gereja Portugis yang dibangun dekat kuburan pada tahun 1676 di Jl. Jayakarta I yang sering disebut dengan Jassenkerk (Gereja Jassen). Nama Jassen diberikan karena banyaknya impor jassen balken (balok kayu dari Ciasem) di daerah itu. Pada abad 18, Batavia bagaikan kota hantu di mana banyaknya kematian dan mayat dikuburkan berlapis-lapis sampai ke halaman gereja dan pada saat inilah nama Kapten Jas mulai muncul seperti yang tertera pada kalimat naar het land von kapitein Jas gaan (pergi ke tanah kapten Jas). Apa arti kalimat itu? Hal pasti ketika kuburan tersebut ditutup makam "Kapten Jas" ikut dipindahkan dan kuburannya tetap berbau kemenyan.
Akhir kata, Kapten Jas berkata jika nyali anda telah siap datanglah padaku pada malam hari minggu untuk memecahkan misteri diriku.
Enjoy, peace and love from Sukra.
Referensi:
Heuken Adolf .SJ,"Tempat-tempat bersejarah di Jakarta", Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, 1997
*naar het land von kapitein Jas gaan berarti dimakamkan dengan cara dikubur berlapis-lapis.
Jumat, 23 Mei 2008
Batik Indonesia
Batik adalah hasil kerajian yang memiliki nilai seni yang tinggi, dimana kerajinan ini telah ada sejak masa kerajaan Majapahit dan penyebaran agama Islam. Jadi meskipun tidak diketahui asal usulnya, tapi dapat dikatakan batik telah menjadi bagian dari Indonesia.Batik yang berasal dari bahasa Jawa yaitu amba (menulis) dan titik, memiliki pembuatan yang unik. Bahan dasar yang berupa kain putih seperti kain mori, sutera, poliester dan bahan sintesis lainnya dibuat corak (motif) dengan menggunakan lilin. Alat yang digunakan untuk membuat motif yaitu dengan canting atau kuas dimana memiliki tujuan agar cairan lilin meresap ke dalam serat kain. Kemudian kain yang telah berlapis lilin dicelupkan dengan warna yang diinginkan, dimana warna biasanya campuran dari tumbuh-tumbuhan seperti pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, garam dari tanah lumpur.
Batik yang dahulu merupakan pakaian keraton, sekarang telah menjadi pakaian resmi dan mudah didapatkan. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya batik dimana dahulu hanya terdapat batik tulis yang pembuatannya menggunakan tangan dan memakan waktu 2-3 bulan yang menyebabkan harga menjadi mahal, sekarang harga menjadi murah karena pengerjaannya hanya memakan 2-3 hari yaitu batik cap.
Hal terakhir perlu diketahui adalah pernyebaran batik di Indonesia dimana diawali ketika terjadinya perang Dipenegoro yang mendesak keluarga keraton meninggalkan kerajaannya ke arah timur dan barat. Ke timur ada batik Solo dan Yogyakarta, Tulungagung dan terus hingga Gresik, Surabaya dan Madura. Ke Barat berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Dari sekian banyaknya daerah, kota Batik akhirnya diberikan kepada kota Pekalongan, karena batik Pekalongan berkembang paling pesat yang disebabkan berada di pesisir pantai dan batik telah menjadi produk unggulan di daerah ini.
Sekian dulu cerita batik dariku. Mari bersama gunakan produk dalam negeri. Enjoy, peace and love.
Referensi foto:
http://homepage3.nifty.com/putri-A/02hanashi/seikatsuki/images/034batik_image.jpg
Jumat, 16 Mei 2008
Perjalanan Rangkaian Candi Sewu
Perjalanan candi di Jawa Tengah seperti tiada habisnya. Perjalanan kali ini adalah kelompok candi yang berada di sebelah Tenggara gunung Merapi. Sebelum memulai sebagai informasi, kelompok candi di Barat Daya gunung Merapi adalah candi Ngawen, Mendut, Pawon, dan Borobudur merupakan rangkaian candi dari wangsa Syailendra.
Rangkaian candi yang berada di sebelah Tenggara gunung Merapi adalah rangkaian bangunan candi dari wangsa Sanjaya yang mayoritas dibangun oleh Panangkaran, Pikatan Bersaudara dan anak Pikatan pada abad ke VIII dan IX. Rangkaian ini memiliki ciri candi Buddha berdampingan dengan candi Hindu sehingga untuk membatasinya, saya sebut rangkaian candi Sewu yang menitikberatkan pada perjalanan candi Buddha saja.
Candi Sari merupakan tempat tinggal bikhu, dimana memiliki arti candi yang indah. Candi ini menghadap ke Timur, dimana memiliki 3 ruangan dan tembok-tembok luarnya terukir relief-relief Buddha dan para Bodhisattva yang megah.
Candi Kalasan dibangun pada 778M yang merupakan hadiah dari wangsa Sanjaya (Panangkaran) kepada wangsa Syailendra dan digunakan untuk pemujaan kepada Dewi Tara. Dari sekian banyak relief dan rupang pada candi ini ada sebuah yang paling menarik yaitu Rupang Ratnasambawa dimana berada pada bagian atas tembok candi bagian selatan. Bagian luar dari candi ini ada sebuah sumur kuno dimana airnya dipercaya dapat membawakan berkah untuk kesehatan dan kesuksesan.
Menuju ke arah tenggara dari candi Kalasan dapat ditemukan candi Sajiwon. Candi yang masih tidak beraturan karena belum dipugar, dibangun oleh Pramodharwani yaitu seorang dari wangsa Syailendra yang menikah dengan Pikatan dari wangsa Sanjaya. Candi ini diperkirakan sebagai tempat pemujaan Sri Kuwera.
Perjalanan berikut menuju candi Sewu yang berada di bagian utara Sajiwon. Dalam perjalanan menuju candi Sewu akan melewati candi Prambanan, candi Lumbung, dan candi Bubrah. Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia yang menjadi warisan dunia dan dibangun oleh Balaputera dewa (adik tiri Purwodadi yang menikah dengan Pikatan), tapi pada catatan lain, ada yang mengatakan dibangun oleh Pikatan. Candi Lumbung adalah candi Buddha yang dibangun untuk pemujaan kepada dewa padi, candi Bubrah adalah candi kecil beragama Buddha sebagai tanda masuknya kawasan candi Sewu.
Candi Sewu adalah candi agama Buddha yang terbesar ke 2 setelah candi Borobudur. Candi yang dibangun oleh Guruwangi (anak Pikatan) memiliki 249 candi kecil sehingga candi Sewu sering disebut dengan candi Seribu. Candi kecil itu terdiri dari 240 candi Perwara, 8 candi Apit dan 1 candi induk dimana digunakan untuk pemujaan kepada dewi Sri Majusri sehingga nama Manjus'riga pada sebuah prasasti diduga adalah nama asli untuk candi ini.
Candi Plaosan kira-kira 2.5 km dari candi Sewu dibangun oleh Garung (saudara Pikatan) pada abad ke IX. Candi tersebut terdiri dari kompleks yang bernama candi Plaosan Kidul dan Plaosan Lor (ukuran lebih besar). Plaosan Lor memiliki 2 candi induk yaitu bagian selatan, diperuntukan kepada laki-laki dan bagian utara, diperuntukan kepada wanita. Tiap-tiap candi utama ini memiliki 6 rupang batu Bodhisattva sebesar manusia, 128 stupa dan 58 candi perwara yang menghadap ke timur yang mana pada umumnya telah rusak dan hancur, dan bagian depan pintu terdapat 2 dewa penjaga Dwarapala. Enam rupang Bodhisattva yaitu Manjusri, Nirwana Viskabhi, Vajrapani, Avalokitesvara, Maitreya, Samantha Bhadra.
Perjalanan terakhir adalah kompleks Istana Ratu Boko yang berada 3 km selatan candi Prambanan dan dibangun pada abad 9 oleh Balaputeradewa. Istana ini merupakan perpaduan 2 agama yang tampak pada gerbangnya dimana 1 gerbang sebagai simbolis agama Buddha dan 1 gerbang sebagai simbolis agama Hindu.
Berakhir sudah perjalanan rangkaian candi Sewu yang ditelusuri dari Yogyakarta ke sebelah timur melalui jalan menuju Solo. Enjoy, peace and love.
Photo by Eileen
Artikel Favorit dalam 1 minggu
-
Hanhan merupakan nama pangg ilan kak Darmanto (Huang Jin Han), seorang teman dekat kak Eileen yang memiliki kesamaan hobi dalam bidang fotog...
-
Manusia Berhadapan antara Lahir ,hidup dan mati Manusia 30% merata hidup Singkat, panjang dan tragedi Tragedi Mati sebelum waktu Terjerumus ...
-
Berjinjit tinggi Menopang jauh Berbentang jauh Melan...
-
Telah lama saya menghilang. Dan inilah momen yang terbaik saya untuk kembali ke dunia blog ini. Sebagai hadiah untuk ajang kembalinya diri s...
-
INTERNATIONAL PUBLICATION Ali Khumaeni, Zener Sukra Lie , Yong Inn Lee, Kazuyoshi Kurihara, Koo Hendrik Kurniawan, Ken-ichi Fukum...
-
Tjai May On (78 th) ilmuwan pelopor Indonesia (ver Gatra 2009 ). Bapak Fisika Indonesia (ver Sukra 2009 ), Penerima penghargaan Achmad B...
-
Melintasi rel adalah hal yang biasa walau saya percaya tidak semua orang pernah merasakan nikmatnya naik kereta api. Lalu bagaimana jika mel...
-
Hadiah Nobel dianug e rahkan setiap tahun sejak tahun 1901 dan terbagi dalam 5 bidang . P ada tahun 1969 ditambah bidang sosial ekonomi ...



