Selasa, 28 April 2009

Sumatra Barat (Padang)

Mendengar Padang, yang teringat pertama kali oleh saya adalah masakan Padang. Mungkin para pembaca juga berpikiran sama denganku. Mungkin itulah kehebatan masyarakat Minang, yang mana berjumlah ±2.7% dan Sumatra Barat ±2% dari populasi penduduk Indonesia, yang dikenal etnis pedagang.

Hal lain yang mungkin terpikirkan adalah kebudayaannya seperti rumah gadang, tari piring, kain songket dan senjata karih-nya. Bagaimana dengan pahlawan dari Sumatra Barat? Sesuatu yang hampir tidak terpikirkan padahal ada 13 tokoh dari 143 tokoh yang berasal dari Sumatra Barat dan disebut sebagai pahlawan bangsa (2008). Mereka terdiri dari 1 tokoh sebelum kebangkitan nasional yaitu Tuanku Imam Bonjol (1772-1864) dan 12 tokoh dari zaman pergerakan dan kemerdekaan.

Ke-12 tokoh tersebut yaitu:

  • Drs. Mohammad Hatta (12 Agustus 1902 - 14 Maret 1980): Sebagai bapak Proklamator Republik Indonesia, bapak Koperasi Indonesia. Ia mengundurkan diri sebagai wakil presiden karena perbedaan pandangan dalam masalah pembangungan negara dengan presiden Soekarno.
  • Sultan Syahrir (5 Maret 1909 - 6 April 1966): Sebagai perdana menteri pertama RI (14 November 1945- 26 Juni 1947), pendiri Partai Sosialis Indonesia (1948) dan salah satu dari "Founding Fathers Triumvirat Bung". Akan tetapi sejak 16 Februari 1962 ia berstatus sebagai tahanan politik sampai akhir hayatnya.
  • Mohammad Natsir (17 Juli 1908 - 6 Februari 1993): Sebagai perdana menteri (8 September 1950- 27 April 1951), ketua partai Masyumi (1949-1958), tapi pernah juga sebagai tahanan politik Soekarno (1961-1966).
  • Tan Malaka (19 Februari 1896 - 16 April 1949): Seseorang bernama Sultan Ibrahim yang bergelar datuk Tan Malaka dan merupakan tokoh pemikir bangsa dengan teori MADILOG (Meterialisme, Dialektika, Logika) yang mengulas tetang cara berpikir baru untuk meninggalkan pola berpikir yang dipengaruhi tahayul dan mistik yang mana menyebabkan orang menyerah pada keadaan. Tapi sayang, ia meninggal ditembak mati karena adanya salah pengertian. Tan Malaka adalah seorang marxis dan pendiri Partai Murba (1948).
  • Abdul Moeis (3 Juli 1883 - 17 Juni 1959): Tokoh pergerakan nasional yang merupakan salah satu tokoh cikal bakalnya berdirinya ITB pada tahun 1917. Ia mengarang buku yang cukup melegenda yaitu "Salah Asuhan".
  • Haji Agus Salim (8 Oktober 1884 - 4 November 1954): Seorang diplomat ulung yang merupakan tokoh kemerdekaan nasional. Ia pernah menjabat sebagai ketua Partai Sarekat Islam Indonesia (1934) dan merupakan anggota kecil dalam perancangan Undang-Undang Dasar (UUD).
  • Prof. Muhammad Yamin S.H (28 Agustus 1903- 17 Oktober 1962): Seorang ahli hukum, sejarah dan sastra dan merupakan tokoh pemikir persatuan negara kebangsaan Indonesia sehingga menjadi anggota yang menggodok konsep asas dan dasar negara; dan juga pernah berseru "Indonesia Merdeka Sekarang" (1933).
  • Prof Dr Hazairin S.H (28 November 1906 - 11 Desember 1975): Tokoh yang mewujudkan hukum baru di Indonesia dan dalam kesehariannya ia adalah doktor ilmu hukum khusus hukum adat yang menyatakan hukum adat berakar pada kesusilaan.
  • HJ Rangkayo Rasu Said (14 September 1910 - 2 November 1910): dianggap sebagai tokoh kebangkitan kaum wanita dimana salah satu perwujudannya adalah mendirikan perguruan putri.
  • dr Adnan Kapaugani (16 September 1905- 23 Desember 1968): salah satu penggagas Kongkres Pemuda 28 Oktober 1928 dan ia juga dijuluki sebagai "The Greatest Smuggler of East Asia" yang mana penyelundupan senjata ini diperuntukan perjuangan bangsa.
  • Bagindo Aziz Chan (30 September 1910 - 19 Juli 1947): seorang tokoh Partai Syarikat Islam Indonesia dan pernah menjabat sebagai walikota. Ia mati mati dibunuh oleh Belanda.
  • H Ilyas Yacoub (1903 - 2 Agustus 1958): merupakan seorang tokoh Partai Muslimin Indonesia (1930).
Hal yang menarik disini yaitu tokoh-tokoh pahlawan Sumatra Barat ini mayoritas memiliki cara pandang, ideologi yang berbeda, dan konsep yang dianutnya adalah konsekuen dan konsisten. Dengan perbedaan mereka dapat menjadi pahlawan berarti perbedaan itu bukanlah cela atau dosa melainkan suatu yang indah dan amanah. Itulah yang dapat kita pelajari dari para pahlawan Sumatra Barat tersebut.

Ikuti apa kata hati dan pergunakan etika bukan mengikuti keadaan dan kondisi karena takut dikucilkan atau karena keinginan akan kekuasaan semata. Jadikan pribadi seorang yang memiliki cita-cita sejati bukan oportunis dan pragmatis.

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi buku:
Martini Purwo,"Aku Mengenal Pahlawan Bangsaku", Talenta Media Utama, Jakarta, 2008

Referensi photo: http://4.bp.blogspot.com/_HtITFCpxdt0/SKcJLN5aTtI/AAAAAAAABUM/rMhuVYRAFoc/s200/imam+bonjol.jpg

Read More......

Jumat, 24 April 2009

Mimpi Tentang Perubahan

Saya berada di suatu jalan yang gelap dan hanya tampak sebuah batu besar dengan tulisan:

"Seseorang yang menguasai dan mengenal
sejarah, karakter, dan tokoh bangsa;
memiliki visi dan misi sebuah perubahan
maka kejadian besar akan terjadi
pada diri dan bangsanya"

Tidak peduli, karena jalan yang gelap ini membuat saya gelisah dan tidak bisa berpikir. Tiba-tiba dari kegelapan datang seorang kakek dengan ciri-ciri tinggi, besar, sederhana dan memancarkan kharisma. Kakek tersebut berkata mari pegang tangan saya dan ikuti saya.

Memegang dan berjalan mengikutinya, saya seperti dibawa ke dua dunia di masa lampau yang tidak kuketahui sebelumnya. Inilah yang kulihat dari mimpi ini:
  1. Sebuah kerajaan dengan sistim federalisme dirubah dan dipersatukan menjadi kerajaan dengan sistim desentralisasi (terpusat). Selain itu, pemersatuan juga terjadi pada sistim tata negara, ekonomi (mata uang, timbangan), sosial, budaya dan huruf komunikasi. Kemudian dilanjutkan dengan seorang yang memiliki kharisma begitu kuatnya membakar buku dan menguburkan orang-orang yang tampak seperti cendikiawan karena dianggap sebagai unsur alat propaganda dan benih aktor pemberontakan.
  2. Seorang anak petani yang terus membaca dan belajar akan ilmu sejarah, falsafah politik, strategi, perang dan sastra. Ketika saya berpaling, anak petani tersebut berdiri di depan banyak orang dan berpidato seperti memproklamasikan sebuah kemerdekaan dalam kedaulatan rakyat, yang mana pada saat itu sistim yang dianut adalah kerajaan feodal. Disamping itu juga, ia memerintahkan para terpelajar harus turun kebawah dan mengabdi pada rakyat bukan sebagai birokrasi, komentator, dan berdiri diatas demi kepentingan kekuasaan dan pribadi.
Penasaran akan mimpi ini, saya mencari tahu cerita apa tersebut. Setelah beberapa minggu akhirnya saya mendapatkannya. Cerita pertama tentang seorang anak pangeran dan juga raja pertama dinasti Qin yang bernama Qin Shu Huang (SM 259- SM 210). Buku dan cendekiawan yang diceritakan ternyata berhubungan dengan Konfucuisme. Cerita kedua tentang pemimpin pertama negara RRT (1949) yaitu ketua Mao Ze Dong (26 Desember 1893 - 9 September 1976).

Belum selesai rasa penasaran itu, apa hubungan antara tulisan pada batu besar dengan perjalanan yang dibawa oleh kakek tersebut. Masa iyah, saya harus belajar sejarah falsafah sebelum dinasti Qin dan sejarah kerajaan dalam babad roman klasik. Tanpa menyadari saya terus mencari titik temu antara mimpi dan kenyataan yang terjadi di negara Indonesia saat ini (data yang hendak ditulis terkumpul 20 April 2009).

Dari sisi falsafah saya menemukan beberapa sosok yang cukup berpengaruh yaitu:
  • Falsafah sosial politik: kongfucuisme (Kong Zi), Mocuisme (Mo Zi), Logikaisme (Hui Shi).
  • Falsafah pertahanan negara: militerisme (Sun Zi), Legalisme (Han Fei Zi), Strategisme (Gui Gu Zi).
  • Falsafah pengetahuan alam: Daosime (Lao Zi), Agronomisme(Xu Ying), Spiritualisme (Zou Yan), sastraisme (Qu Yuan).
Tentu saya tak akan membahas semuanya. Melihat dari ketua Mao, falsafah apa yang dipilih dan bagaimana mengilhamkannya:
  • Mo Zi adalah seorang ilmuan, pekerja keras, dan bukan pejabat negara; yang menerapkan konsep kebersamaan, kesetaraan dan ketertiban dalam kasih. Selain itu, ia mengharamkan sebuah konsep jalan tengah (status Quo) sebagai pilihan dan menjadikan rakyat sebagai budak negara atau bidak penguasa.
  • Sun Zi adalah seorang ahli militer yang mengilhami teori perang bertahan dan gerilya. Teori tersebut digunakan Mao dalam perang melawan Jepang selama 8 tahun dan perang dalam negeri selama 4 tahun yang mana hasilnya adalah kemenangan mutlak.
  • Lao Zi adalah tokoh dialetik klasik dan naturalis yang mana mengilhami teori paradoks dan kontradiksi dalam politik negara; dan falsafah agronomisme adalah salah satu bentuk yang dilakukan oleh Mao dalam melaksanakan pembagian tanah untuk petani.
Dari sisi roman klasik, saya mendapatkan:
  • Roman Tiga Negara (Cerita Tiga Negara Sam Guo): bahwa dalam kudeta istana pada umumnya dilakukan oleh para penguasa militer dan kaum pejabat tinggi istana. Mereka tidak loyal dan akhirnya berkhianat, hal ini disebabkan politik demi kekuasaan (mungkin dapat saya katakan sebagai koalisi semu). Sehingga dilakukan pembersihan personal secara periodik untuk tercapainya kesetiakawanan dan kesamaan dalam visi dan misi.
  • Roman Tepi Air (Cerita Pendekar Shui Hu): bahwa pemberontakan rakyat terjadi karena rasa benci atau dengki terhadap pejabat yang bermoral bejat dan korupsi. Hal ini disebabkan karena sistim tata negara yang bobrok, sehingga rakyat menginginkan reformasi, revolusi dan perjuangan hingga tuntas untuk sebuah kemenangan yaitu sistim tata negara yang pro kerakyatan.
Melihat televisi yang ribut akan siapa yang akan menjadi pemimpin negara, membuat saya berpikir apakah ada kaitannya dengan mimpi tersebut. Jawabannya hanya satu yaitu sejarah baru telah dan akan tercipta. Maksudnya adalah
  • Sebagai rakyat haruslah sadar tokoh pemimpin adalah manusia biasa bukan dewa tapi pemimpin tersebut haruslah dapat memisahkan akan kehidupan pibadi dengan pekerjaannya.
  • Sebagai rakyat janganlah hinaan dan ejekan yang muncul, tapi merenungkan pengabdian pemimpin tersebut. Renungan dimulai dari cita-cita dan ideologinya, era zaman sejarahnya, dan kebijakan dalam tindakannya yang mana merupakan hasil dan akibat dalam perjalanan sebuah sejarah baru.

Kembali pada tulisan di batu besar. Siapakan sosok yang memiliki kriteria dalam tulisan tersebut? Ayah berkata dahulu pada sebuah seminar, koleganya Dr S J Haryanto AFC (1948-2005) pernah mengatakan sosok tersebut hanya ada tiga orang yaitu Ir. Soekarno (1901-1970), Jend. Soeharto (1901-2008), dan Dr Nurcholish Majid (1939-2005). Saya berharap masih ada sosok lain? dan siapakah itu?

Analisa mimpi ini mungkin salah karena saya adalah manusia biasa. Hal pasti saya mencoba mencari, belajar untuk menemukan jawabannya dan akhirnya saya menghargai diri saya atas usaha tersebut.

Pemimpin bangsa juga mungkin melakukan salah karena bukan dewa melainkan manusia biasa seperti lainnya. Hal yang pasti mereka telah berbuat yang terbaik untuk negara yang dipimpinnya. Jadi sebagai rakyat hargailah usaha tersebut. Hal yang pasti sejarah baru akan terus terjadi dan hendak kemana sejarah tersebut dibawa adalah keputusan setiap manusia itu sendiri.

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi photo: http://kholisarifin.blog.friendster.com/files/nu67razj1r1v.jpg

Read More......

Selasa, 21 April 2009

Kelahiran, Kematian dan Kehidupan

Ini adalah sebuah konsep dari ilmu kesehatan jiwa transenden dan konsep falsafah hidup kekal abadi yang diceritakan oleh Pakde. Hanya konsep karena Pakde berpesan bahwa pengetahuan ini hendaknya dipelajari setelah berusia 50 tahun. Saya tidak bertanya karena pasti ada alasan dan andai saya tahu mungkin sesuatu yang tidak diinginkan dapat terjadi.

Pakde menekuni pengetahuan ini atas anjuran eyang. Selama lebih kurang 15 tahun, Pakde berkali-kali ke Nepal, India, China, Taiwan hanya untuk belajar dan menekuni pengetahuan tersebut. Berikut adalah catatan konsep, pesan, petunjuk untuk proses belajar meskipun belum saatnya saya untuk mempelajarinya.

Sebelum masuk ke dalam topik, Pakde membagi ilmu kesehatan menjadi dua bagian yaitu:

  • Kesehatan tubuh Jiwa : merupakan proses kehidupan manusia (lahir- berkembang- mati).
  • Kesehatan transenden : merupakan tahap perjalanan (kelahiran- kematian- kehidupan).
Dalam kesempatan ini Pakde bercerita tentang ilmu kesehatan transeden yang mana terbagi atas tiga bagian proses yaitu:

Proses kelahiran yang bereinkarnasi.
Manusia dalam proses kelahiran mempunyai unsur bawaan yang dikenal dengan benih karma. Sehingga dalam kehidupan yang lampau dapat terbawa dalam kehidupan selanjutnya. Jika karma baik yang terbawa tak masalah, bagaimana dengan karma buruk? Proses terapi dilakukan dengan menggunakan landasan "Cinta, kasih dan sayang" yang mana dilakukan pada kondisi khusus (trans) dengan tindakan yang dinamakan ilusi kontrol.

Buku rujukan adalah "Many Lives Many Master" (1988); "Through Time Into Healing" (1992); "Only Love is Real" (1996); dan "Message From The Master" (2000) oleh Dr Brian L Wess M D.

Proses kematian yang bermartabat.
Manusia takut akan kematian dan hal tersebut tidak bisa terelakan. Berbagai cara dilakukan bahkan dengan memamfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan, akan tetapi semua itu tidak memberi sumbangan yang berarti, hanya dapat mengurangi ketakutan manusia untuk menerima kematian secara bermartabat. Caranya mengurangi ketakutan hanya bisa dilakukan dengan sikap manusia itu sendiri yaitu terhadap dan menjelang kematian yang mana dipercaya terdapat 5 tahapan yaitu penyangkalan dan pengasingan diri; marah; menawar; depresi; menerima dan harapan.

Ada pesan dari proses ini yaitu jangan mencoba dan mengelakan kematian. Kematian adalah hal yang pasti tapi mati dengan bahagia adalah yang didambakan. Hal tersebut dilakukan dengan merenungkan kehidupan bahagia yang harus ditanam. Jadi hal yang sulit bukan jasat yang tidak bernyawa melainkan kasih sayang ketika manusia bernafas.

Buku rujukan adalah "On Death and Dying" (1969) dan "Question and Answers On Death and Dying" (1974) oleh Dr Elisabeth Kubler Ross MD; "The Art of Dying" (1996) oleh Dr Patricia Weenolsen.

Catatan: Dr Elisabeth Kubler Ross MD (1926-2004) adalah seorang dokter medis psikiater wanita yang dikenal sebagai ahli Thanalogi (studi tentang kematian).

Proses kehidupan yang berkelanjutan.
Proses ini diketahui dari penelitian tentang kasih sejati dari orang-orang yang mati suri. Hal ini membuktikan bahwa adanya kehidupan setelah kematian yang mana dalam fase "trans" ada makhluk bercahaya yang bertemu dengan sekelompok orang.

Buku rujukan antara lain "Life After Life" (1976) oleh Dr Raymond A Moody; "Life Before Life" (1976) oleh Dt Helen Wambach; "After Death" (1997) oleh Dr Sukie Miller

Itulah cerita tentang proses transenden. Setelah beberapa saat untuk meminum air, Pakde melanjutkan tentang ajaran falsafat keutuhan batin transenden yang mana terbagi atas tiga ajaran dari dunia timur yaitu:

Ajaran Dao China
Mengajarkan manusia untuk membangkitkan kehidupan, kesehatan tubuh, jiwa dan alam dewa dengan latihan meditasi Dao Gong (sekarang Qi Gong).

Kitab-kitab rujukan adalah kitab Dao De Jing oleh Lao Zi, kitab Zhou Yi Can Tong Qi oleh Wei Bo Yang, kitab Huang Ting Jing oleh Wei Hua Cun, dan kitab Wu Zhen Pian oleh Zhang Bo Duan.

Ajaran Tantrayana Tibetan
Mengajarkan manusia untuk lebih memahami perjalanan "trans" yang terdiri dari perjalanan trans kematian (memiliki fase 7x7 = 49 hari) dan perjalanan trans untuk kelahiran kembali. Dalam memahami pelajaran ini haruslah memahami pelajaran Tantrayana Tibetan itu sendiri yang dipadu dengan ajaran Zhishey Chod, Phowa, Bardon Thodol.

Buku rujukan adalah "The Tibetan Book Of The Head" (1927) oleh Lama Kazi Dewa Sandup dan Dr W.Y. Evan Wentz; "Bardon Teachings The Way of Death and Rebirth" (1982) oleh Lama Lodroe; dan "The Tibetan Book of Living and Dying" (1992) Sogyal Rinpoche.

Ajaran Kebatinan Kejawen Jawa
Salah satu ajaran kebatinan kejawen adalah ajaran dari Syekh Siti Jenar (1426-1517) tentang manunggaling kawula lan gusti yang artinya memaknai rahasia hidup secara makrifat untuk mencapai kesempurnaan ilahi.

Bila proses dan ajaran diatas ditarik pada sebuah titik maka akan nampak bahwa kelahiran manusia adalah mulia; yang membawa karma dan benih cinta kasih sayang abadi. Ini adalah sebuah tahap perjalanan yang penuh misteri dan transeden untuk sebuah kehidupan yang abadi. Kata kunci untuk kehidupan tersebut adalah cinta, kasih, sayang, dan abadi. Sehingga dalam ilmu kesehatan, metode terapinya dilakukan pencarian dengan ilusi trans seperti meditasi, mimpi, hipnotis, dll yang tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan cinta dan damai.

Bingung khan... Namanya juga pengetahuan untuk usia diatas 50, jadi saya sendiri juga tidak begitu mengerti. Hanya berharap dengan menulis ini nanti di usia 50 lebih, saya dapat membaca dan mengerti apa yang saya tulis.

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi photo: http://fariz.files.wordpress.com/2007/04/1716.jpg (upacara ngaben)

Read More......

Minggu, 19 April 2009

Kenapa Harus Belajar?

"Tong Kosong Nyaring Bunyinya"

Orang yang banyak bicara biasanya tidak berilmu. Bagaimana orang yang berpakaian rapi atau yang bergaya imam? Apakah mereka memiliki pengetahuan yang patut dibanggakan atau benar imam? Karena selama ini orang yang berpenampilan sederhanalah yang sering dapat acungan jempol dari saya.

Setelah olahraga jalan pagi, saya mampir ke sebuah warung kopi. Disana saya bertemu dengan Kongbaba dan bertanya "sedang baca koran apa?" Kongbaba menjawab: saya lagi baca koran Republika dan koran Guo Ji Ri Bao.

Penasaran mengapa kedua koran tersebut yang dipilih? Saya menulis ini bukan ingin mempromosikan koran tersebut yah.

Koran republika yang umumnya dibaca oleh kaum muslim yang mana pemberitaannya luas, obyektif dan sejuk. Serta memiliki halaman "Khazanah" yang merupakan cerita tentang dunia ilmu pengetahuan, para cendikiawan muslim dan sejarah perkembangannya. Selain itu di hari Minggu memiliki halaman khusus mingguan "Islam Digest". Sehingga media ini menunjukan bahwa muslim adalah kaum cendikiawan yang beriman.

Harian Guo Ji Ri Bao adalah koran Indonesia yang berbahasa Tionghoa yang mana peminatnya adalah kaum minoritas Tionghoa perantauan dan totok Xing Ke. Berita yang disampaikan bernuansa China dan tentang pemberitaan para tokoh etnik Tionghoa yang mana pada umumnya memiliki masa lalu yang guram dan kaya, pada saat ini menjadi tokoh politik oportunis, tokoh organisasi atau lembaga dagang, sosial,budaya dan pendidikan yang mana mendambakan negara yang menjadi impiannya.

Hubungannya koran tersebut dengan belajar sebetulnya tidak begitu nyata. Hal yang pasti, koran adalah salah satu media yang sederhana tapi dengan membacanya maka manusia akan terus belajar dan belajar. Pada saat Kongbaba menjelaskan kenapa memilih koran tersebut, saya teringat akan beberapa petunjuk yang ada pada Hadits, dan Lun Yu yang dapat digunakan sebagai renungan.

Renungan tentang "belajar" yang dipetik dari Hadits (dari Buku Pintar Hadits, Syamsul Rijal Harid, BIP, Agustus 2008):
  • 201: Tidak pantas bagi orang bodoh mendiamkan kebodohannya.
  • 202: Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.
  • 204: Jika engkau pergi lalu mempelajarinya suatu bab ilmu yang dapat diamalkan adalah lebih baik bagimu dibandingkan sholat seribu roka'at.
  • 205: Belajar ilmu itu menghapus dosa-dosa besar dan belajar Al Qur-an itu menambah pengertian akan agama.
  • 206: Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Alloh mempermudah baginya suatu jalan menuju surga.
Renungan tentang "belajar" dari bab Lun Yu yang membuat saya kurang mengerti:
  • Bab 14 pasal 24: Dahulu belajar untuk meningkatkan diri sendiri. Sekarang belajar untuk memperlihatkannya kepada orang lain.
  • Bab 8 pasal 9: Rakyat hanya melaksanakan apa yang boleh dilakukannya dan tidak boleh mengetahui apa yang boleh diketahuinya.
Marilah kita bersama belajar dan jadikan negara ini menjadi maju dan makmur. Menjadi seorang pemimpin yang pintar, bijak, berani, tidak munafik, dan tidak membohongi rakyat.

Ini adalah bab 9 pasal 29 dari bab Lun Yu yang menarik perhatian saya:

Orang pintar tidak dilamun kebimbangan
Orang bijak tidak dilanda kemurungan
Orang berani tidak dirundung ketakutan

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi photo: http://studyprof.com/blog/wp-content/uploads/2008/11/study-stuff.jpg

Read More......

Kamis, 16 April 2009

Aku Bukan Pengemis

Mengetahui jumlah orang miskin lebih banyak daripada jumlah orang kaya adalah hal yang biasa. Bagaimana jika jumlah pengemis jauh lebih banyak daripada orang miskin, tentu sesuatu hal yang tidak terpikir.

Berikut mungkin contoh jawaban yang kurang pas tapi berharap bisa menggambarkannya:

  • Aku memang miskin tapi tidak butuh belas kasihan, karena saya masih memiliki harga diri dan bukan pengemis.
  • Lihat aku, tiada lagi yang berarti dan tersisa dalam hidup ini. Jadi tolong bantu dan belas kasihani kami.
Mana dari kedua jawaban tersebut yang lebih sering tergambar dalam kehidupan sehari-hari?

Saya menyadari dalam kehidupan tentu ada proses memberi dan menerima karena pada kodratnya manusia adalah makhluk sosial yang mana saling membutuhkan antara satu dengan lainnya tanpa terkecuali (termasuk orang yang paling berkuasa sekalipun). Seringkali pada proses tersebut manusia sering terbuai sehingga lebih memilih untuk menerima daripada memberi yang mana menyebabkan manusia menjadi fenomena orang miskin dan "pengemis".

Sebagai contoh yang paling mudah yaitu hubungan seorang kontraktor dengan pejabat. Seorang kontraktor karena memiliki kedekatan dengan seorang pejabat maka ia meminta bantuan pejabat tersebut agar meloloskan tendernya. Ini adalah gambaran manusia yang ingin maju tapi berperan sebagai pengemis yang kerjanya meminta-minta, bukan seorang profesional yang menyebabkan orang mencarinya karena membutuhkannya.

Contoh lain sebagai pengemis yang terselubung yaitu hubungan dokter dan pasien. Pasien sakit sehingga membutuhkan pengobatan yang mengharuskan pergi ke dokter. Dokter memeriksa dan memberikan perawatan yang tepat. Disini menggambarkan bahwa dokter adalah pekerjaan yang mulia yaitu menyelamatkan hidup manusia. Akan tetapi bagimana bila dokter memamfaatkan momen tersebut untuk kepentingannya seperti menawarkan perawatan yang seharusnya tidak perlu dan menyebabkan biaya membengkak. Hal ini dilakukannya karena berharap akan mendapatkan komisi yang lebih besar.

Maafkan saya bila ada yang tersinggung. Disini bukan berarti menjelekan sebuah pekerjaan melainkan memberikan gambaran bahwa pengemis itu ada dimana-mana bahkan di pekerjaan yang dianggap istimewa sekalipun seperti halnya menjadi wakil legislatif.

Dipikir-pikir, inilah penyebab mengapa negara sulit untuk berkembang dan maju yaitu banyaknya sosok pengemis yang hanya memikirkan uang dan kepentingannya sendiri daripada sosok profesional yang selalu memberikan yang terbaik untuk hasil karyanya.

Ada beberapa pertanyaan untuk anda. Apa yang paling berharga darimu? Apa arti kaya bagi dirimu? Bagaimana anda mempertahankannya?

Untuk saya jawabannya yang paling berharga adalah diri saya sendiri. Kaya dalam ilmu pengetahuan. Mempertahankan dengan giat belajar dan bekerja secara profesional.

Bagaimana dengan anda (jadi ingat trademark sebuah iklan " selanjutnya terserah anda")? Apakah jawabannya uang, menjadi milioner dan mengemis?

Enjoy, peace and love from Sukra.

Read More......

Senin, 13 April 2009

Cerita Calon Pendamping

Ada apa dengan saya? Pacaran saja belum tapi sudah berpikir tentang calon pendamping. Jangan bilang saya dengan anak kecil karena belum pacaran; tapi remaja yang penuh imajinasi. Hihihi.

Bermula dari sebuah cerita tentang seorang manusia yang terus belajar untuk mengenal dan memahami kehidupan. Hingga sebuah saat manusia tersebut menemukan pasangannya. Bagaikan dua buah cerita di sebuah persimpangan.

Persimpangan ini akan menjadi penentu jalan dari kedua cerita tersebut. Apakah sebatas pertemuan cerita yang tanpa disengaja atau bersatunya dua cerita karena memiliki tujuan dan cita-cita yang sama. Tentu pilihan terakhir yang lebih menarik perhatian karena disana ada kemungkinan timbul yang namanya benih-benih cinta.

Cinta adalah sebuah langkah yang krusial. Disini cinta dipertanyakan, apakah siap untuk berlanjut hingga tahap keluarga atau hancur di tengah jalan bagai cinta monyet. Tentu yang namanya sebuah cerita akan memiilih yang terbaik walau pada kenyataan seringkali diluar dugaan.

Berkeluarga (telah memiliki pendamping), apakah ini akhir dari sebuah cerita dalam kebahagian? Belum tentu karena kisah cerita para artis banyak yang kandas di tengah jalan. Akhirnya membuat saya kembali ke tahap awal dari cerita ini. Hal yang mebuat saya berpikir, apa yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah keluarga yang utuh dan kokoh dalam jangka panjang selain cinta?

Hal yang pasti proses menemukan calon pendamping adalah cerita, cita-cita dan cinta. Jawaban dalam menentukan calon pendamping yang mana mudah disebutkan tapi sulit dilakukan yaitu komitmen, konsisten dan konsekuen.

Apakah ini sama halnya dalam cerita politik (menentukan koalisi dan pasangan presiden)? Mereka memiliki cerita, cita-cita yang berbeda. Tapi cintalah yang menyatukan mereka. Berharap cinta mereka adalah cinta untuk bangsa, negara dan rakyatnya. Bilamana mereka bersatu maka komitmen, kosisten dan konsekuen menjadi harga mati atau air mata, sakit hati dan hancur harapan karena ada dusta dibalik cerita tersebut.

Apakah cinta adalah sebuah kalkulasi tanpa etika dalam sebuah kehidupan sosial dan berkeluarga bagi setiap insan calon pendamping?

Enjoy, peace and love from Sukra.

Read More......

Kamis, 09 April 2009

Aksara Cermin Kehidupan Budaya

Saya bingung harus memulai darimana tulisan ini. Tapi saya senang dengan kebingungan ini karena membuat saya sadar bahwa saya masih bisa berpikir. Hal ini berarti dalam diri saya masih ada nafas kehidupan.

Nafas dan hidup adalah sebuah kesatuan, oleh sebab itu saya mengawalinya dengan huruf Yi(satu) karena segala sesuatu harus ada yang pertama. Itulah Yi yang memiliki makna awal dari segala sesuatu dan merupakan sebuah kesatuan yang utuh.

Legenda budaya Tiongkok percaya bahwa segala kehidupan memiliki unsur tanah. Nu Wa menciptakan manusia dari tanah lempung. Tu (tanah) adalah huruf Yi yang ditambahkan guratan silang diatasnya. Oleh karena itu manusia harus mampu mengolah tanah agar dapat melanjutkan kehidupan. Sheng (hidup) adalah guratan Niu (sapi) yang ditambahkan diatas guratan Tu. Adanya guratan Niu karena dahulu manusia menggunakan sapi dalam mengolah lahan tanah.

Sebelum berlanjut saya coba untuk melihat aksara She (lidah) terlebih dahulu. She merupakan gabungan dari Qian(ribu) dan Kou (mulut). Hal ini menjelaskan bahwa ribuan kata terucap dari mulut yang kemudian akan digunakan untuk berkomunikasi. Huo (hidup) merupakan huruf She yang ditambahkan tiga titik air di sebelah kirinya sehingga memiliki makna air liur dipergunakan agar dapat berkomunikasi secara lancar dan baik.

Sheng dan Huo memiliki arti yang sama, saya juga kurang mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Hal pasti Sheng Huo (kehidupan) bila dijabarkan memiliki makna bahwa manusia hidup harus bekerja (mengolah lahan tanah) dan berkomunikasi dengan sosialnya dengan baik. Dengan kata lain manusia dalam kehidupan yang berbudaya harus menjaga dan melestarikan alam lingkungan serta kedinamisan sosial masyarakatnya.

Wang (raja) memiliki tambahan sebuah garis diatas huruf Tu. Disini menunjukan seorang raja bekerja diatas wilayahnya, berkomunikasi dengan rakyatnya, dan harus mampu mengkoordinasi alam, sosial dan dirinya sendiri. Zhu (empunya) memiliki satu titik di atas huruf Wang, yang mana bila diperibahasakan "diatas langit masih ada langit" atau dapat diartikan sebagai makna spiritual dan jati diri. Ren (angka pilar batang langit) memiliki guratan menyerupai Wang akan tetapi garis teratasnya sedikit terbuka, hal ini memiliki makna angka 9 yang dipercaya sebagai angka tertinggi dan angka mitos untuk sang raja. Yu (batu giok) memiliki titik di bagian kanan (pinggang) huruf Wang yang mempunyai makna benda petuah atau mustika yang dipakai oleh raja.

Aksara adalah bagian cermin dari budaya, sama halnya manusia yang berada dalam proses belajar (kemampuan dalam menggunakan aksara dan pengetahuan umum) dan bercermin pada perkembangan kehidupan sosialnya (seperti sastra, seni, pendidikan).

Catatan: Bentuk atau tipe budaya saya bagi dalam empat yaitu budaya benda (contoh wayang, keris, batik), budaya hubungan sosial (contoh tata krama, upacara adat), budaya klasik (contoh sejarah, candi) dan budaya jiwa atau kebatinan.

Manusia mimpi, menemukan jati diri.
Kehidupan sadar, membentuk harga diri.
Manusia sadar, akan ganasnya alam semesta.
Kehidupan mimpi, damai sosial nurani.
Wahai manusia kehidupan sejati.
Hanya dikalbu kehidupan manusia.


Hari ini ( 9 April 2009 ) adalah hari pencontrengan pemilu. Hal ini mengingatkan saya bahwa manusia kehidupan Indonesia sedang berada dalam proses pembelajar mengenal jati dirinya.

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi:
Lie Tjung Jie," Diktat Kursus Sekilas Bahasan Bahasa Tionghoa Ditilik dari Filosofi dan Budayanya" Jakarta, Mei 1999.

Read More......

Minggu, 05 April 2009

Filosofi Manusia dalam Aksara

Dipercaya bahwa setiap tulisan aksara Tionghoa (aksara piktograf) merupakan simbol, bentuk, perilaku dan fenomena yang memiliki makna atau filosofi tertentu. Sebagai contoh Ren (manusia) makhluk yang dapat berdiri tegak, melangkah dan berjalan diatas kedua kakinya. Dalam hati bertanya, bagaimana dengan seseorang yang cacat? Saya tidak tahu, mungkin memang ada makna lain dari tulisan tersebut. Tentu banyak hal yang menarik untuk dipelajari lebih lanjut.

Da (besar) yang mana ada tambahan tangan dari huruf Ren. Disini ingin menunjukan bahwa manusia itu terus berkembang dengan cara meraih atau menggapai sesuatu yang tentu dengan usaha keras (yang umumnya menggunakan tangan). Tai (sangat, terbesar) yang mana ada tambahan titik dibawah huruf Da. Nah, titik ini dipercaya sebagai simbol untuk alat vital. Saya berpikir, apakah ini bermakna bahwa hubungan sex akan membuat manusia terasa hidup atau indah yah? Sedangkan, Tai Tai (istri) bila dijabarkan memiliki makna ibu rumah tangga yang memiliki peranan sangat besar sebagai wanita dalam roda keturunan kehidupan keluarga. Quan (anjing) adalah guratan Da yang ditambahkan titik pada bagian atasnya. Bila titik pada Quan memiliki makna yang sama dengan titik pada Tai yaitu alat vital dan keberadaannya di atas sehingga menyebabkan memiliki makna anjing; maka kesimpulannya adalah hubungan seksual yang menyimpang dari kaca mata manusia. Maaf tidak mau melanjutkan untuk bagian ini jadi silahkan berimajinasi sendiri yah...

Tian (langit), huruf Da yang ditambahkan sebuah garis pada bagian atasnya memiliki makna manusia merupakan sebuah kesatuan yang tidak dapat dipisahkan oleh langit. Fu (suami), garis Tian yang menembus ke atas. Disini kita dapat melihat bahwa bangsa Tiongkok mempercayai bahwa Tuhan itu adalah laki-laki, dan hanya seorang suami sejati yang bisa mengubah nasib keluarganya. Yao (mati muda), garis Tian tidak menembus dan garis bagian atas terbuka miring. Disini menunjukan ada ketidak seimbangan dalam kehidupan yang menyebabkan pintu langit terbuka (mati muda). Makna kiasan ini berlaku bagi seorang suami yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai bonus, berikut adalah makna dibalik huruf nan (laki-laki) dan nu (wanita). Nan adalah gabungan 2 aksara yang memiliki arti sawah dan tenaga. Disini berarti seorang laki-laki harus bekerja sekuat tenaga untuk mengolah, memikul sawah untuk menafkahi kehidupan keluarganya. Nu menggambarkan seseorang yang sedang terlentang yang memiliki makna seorang wanita harus melayani suaminya bukan menguasai demi keharmonisan kehidupan keluarga.

Jian (Zina atau perkosa) merupakan gabungan 3 aksara Nu dengan posisi satu diatas dan dua dibawah. Yao (genit, iblis) adalah gabungan 2 aksara yang mana bagian kirinya adalah Nu dan bagian kanannya adalah Yao. Jian dan Yao memiliki arti hubungan dengan wanita yang tidak sesonoh dapat meruntuhkan kehidupan keluarga.

Satu hal yang perlu diingat bahwa tulisan aksara Tionghoa disatukan oleh raja Qin Shi Huang Ying Zheng pada dinasti Qing (SM 221 - SM 226). Sehingga arti atau filosofi ini janganlah dijadikan sebagai aturan yang baku karena manusia terus berevolusi mungkin tidak secara fisik tapi secara emosi, tingkah laku, pekerjaan, kebutuhan, dll.

Bagaimana dengan aksara nusantara terutama aksara Jawa (Ha na ca ra ka ... nga) dengan legenda Aji Saka. Aksara Jawa konon juga memiliki makna dan filosofi dalam budaya masyarakat Jawa (Prombon Jawa)? Bagaimana dalam perjalanan evolusinya? Apa hubungannya antara aksara Palawa, aksara Kawi, aksara Majapahit dan aksara Jawa (yang mulai dipakai pada abad ke 15)? Bagaimana melestarikan warisan budaya nenek moyang yang berupa aksara Budaya ini?

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi:
Lie Tjung Jie," Diktat Kursus Sekilas Bahasan Bahasa Tionghoa Ditilik dari Filosofi dan Budayanya" Jakarta, Mei 1999.


Read More......

Kamis, 02 April 2009

Permainan Catur

Melihat catur mengingatkan saya akan sebuah hobi di masa bangku sekolah (SD hingga SMA, zaman handphone dan komputer adalah barang super mewah). Saya menjadi jagoan dan sulit ditaklukan, itulah yang saya rasakan. Tapi hal tersebut telah menjadi kisah lama karena saya sadar sehebat-hebatnya manusia masih ada yang lebih hebat.

Suatu ketika, saya melihat sebuah permainan catur internasional yang menggunakan peraturan sedemikian rupa. Disini saya merasakan banyak pesan yang dapat dijadikan bahan pembelajaran dalam kehidupan manusia.


Di awal pertandingan setiap pemain diberikan materi dan waktu yang sama. Mungkin sulit diimplementasikan dalam kehidupan nyata yang mana ada si kaya dan si miskin. Tapi hal yang pasti setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk hidup dan waktu yang sama pula yaitu 1 hari sama dengan 24 jam.

Tujuan utama manusia tentu sebuah keberhasilan yang mana tidak luput dari berbagai macam pengorbanan. Walau seringkali tidak sesuai dengan harapan yaitu sebuah kegagalan (hasil seri sama halnya dengan kegagalan yaitu tidak maksimal), setidaknya jadikan pengorbanan tersebut berharga (membuat anda sulit untuk ditaklukan).

Sebuah keputusan yang diambil tak bisa diulang kembali. Apa yang telah diperbuat menjadi masalah, resiko dan tanggung jawab masing-masing di kemudian hari. Maka jangan berbuat kesalahan dan hati-hatilah karena keputusan akan menentukan masa depan dan penyesalan tak pernah datang duluan.

Berpikir beberapa langkah kedepan. Setiap masalah yang dihadapi haruslah diperhitungkan secara matang akan kebaikan dan keburukannya, walau pada kenyataan sering terjadi bahwa hal selanjutnya tidaklah sesuai dengan apa yang dipikirkan atau diharapkan. Contoh yang termudah, sering kali manusia terbuai akan sebuah kenikmatan yang ada di depan mata tapi tidak menyadari jebakan-jebakan yang ada dibelakangnya. Itulah sebabnya mengapa bangsa ini sulit maju karena mereka jarang memikirkan masa depannya. Contoh yang lebih sulit yaitu kehidupan berpolitik yang mana dapat diprediksi tapi hasilnya sering kali melenceng bahkan bertolak belakang.

Pergunakan waktu sebaik mungkin. Manusia sering lupa bahwa waktu terus berjalan dan parahnya sering menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna. Contoh: hal yang dipelajari "kewajiban dulu baru hak" dan realitanya banyak ditemui orang yang berpegang prinsip "santai dulu kan pekerjaan masih bisa diselesaikan esok". Benar tidak? walau pada kenyataan memang ada orang yang baru bisa menunjukan hasil maksimal ketika waktu terdesak.

"Check Mate".

Anda kalah dalam permainan catur ini karena anda tidak pernah memberikan langkah yang terbaik dalam permainan anda. Konsentrasi dan fokus pada permainan (kehidupan) anda bukan terjebak permainan orang lain.

Enjoy, peace and love from Sukra.

Referensi Photo: http://www.chesscenter.com/twic/utkas.jpg

Read More......

Artikel Favorit dalam 1 minggu